OUR NETWORK

Review Film: ‘Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald’

Review Film: ‘Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald’
Foto: fantasticbeasts.com

Sekuel film yang sudah ditunggu-tunggu penggemar Harry Potter di seluruh dunia akhirnya dirilis pada 16 November yang lalu. Di Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, kita kembali diajak mengikuti petualangan dari Newt Scamander dan kawan-kawannya. Kali ini, di kota Paris. Walaupun di film sebelumnya secara tidak sadar kita sudah berhadapan dengan sosok Grindelwald (yang menyamar), di film ini kita diajak berkenalan langsung dan mengikuti sepak terjangnya sebagai penyihir hitam sebelum era Voldemort. Sayangnya, bagi saya film ini menawarkan terlalu banyak subplot yang membingungkan.

Spoiler alert untuk Ladies yang belum nonton!

Review Film: ‘Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald’
Foto: digitalspy.com

Setelah berhasil ditangkap di akhir film Fantastic Beasts and Where to Find Them, Grindelwald berhasil kabur. Setelah tahu kekuatannya Credence, Grindelwald pun gerak cepat untuk melacak keberadaan Credence di Paris. Tapi, dia juga nggak mau asal. Grindelwald mau Credence datang sendiri tanpa paksaan dan bergabung dengannya. Singkat cerita, kakak-beradik Goldstein, Jacob, Newt, serta para karakter baru berkumpul di Paris untuk mencegah ‘kebangkitan’ Grindelwald si penyihir hitam yang dulunya dekat dengan Dumbledore.

Review Film: ‘Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald’
Foto: digitalspy.com

Semakin jauh kita menyelidiki asal-usul Credence, kita semakin bingung dibuatnya.

Ternyata Credence adalah Corvus? “Bukan, Corvus sudah mati,” kata Leta. Dia pun menjelaskan apa yang terjadi. Udah kayak sinetron deh tuh bayi ditukar sana-sini. Dan di akhir film, Grindelwald membawakan satu lagi plot twist yang bikin dunia sihir dan dunia Muggle gonjang-ganjing; Credence sebenarnya adalah Aurelius Dumbledore! Dan siapakah Aurelius Dumbledore? Kita tunggu kelanjutannya di Fantastic Beasts 3.

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald menghadirkan visual yang mengagumkan. Sayangnya beasts yang muncul terasa seperti pelengkap aja sementara Newt sibuk menjadi semacam agen rahasia. Namun, banyaknya karakter baru yang muncul memotong screen time tiap karakter. Kita tidak diberi kesempatan untuk mengenal para karakter ini lebih dalam. Belum lagi karakter yang sudah kita tunggu kemunculannya malah hanya muncul sesaat (ahem Leta dan Nagini). Bagi saya film ini terasa seperti sebuah intro yang panjang untuk film-film mendatang di franchise ini. Informasi-informasi baru yang diberikan Rowling juga mengusik timeline yang sudah diketahui sebelumnya. Kemunculan Profesor McGonagall pun seakan hanya untuk melengkapi elemen nostalgia. Saya masih nggak ngerti, kenapa McGonagall yang selama ini diketahui lahir di tahun 1935 muncul di film ini yang setting-nya tahun 1927, di adegan flashback pula. Mungkinkah McGonagall berbohong tentang usianya atau ada karakter lain dengan nama yang sama?

Film ini lebih sibuk mengajak kita mencari tahu asal-usul Credence dan sejarah keluarga Leta daripada menjelaskan sepak terjang kriminal Grindelwald. Padahal kan judul filmnya The Crimes of Grindelwald, toh? Ya memang, Grindelwald lah yang sempat membuat Dumbledore tergoda untuk menjadi penyihir hitam. Karena kedekatan dengan Grindelwald pula, hubungan Dumbledore dan keluarganya renggang. Dia juga mengintimidasi dan membawakan pidato ala Nazi untuk mengajak para penyihir bergabung dengannya… tapi, apalagi?

Review Film: ‘Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald’
Cieee… Foto: time.com

Satu lagi, ternyata Dumbledore sejak dulu sukanya nyuruh orang lain (yang lebih muda pula!) untuk berhadapan dengan ‘penjahat’ ya… hmmm. Dulu nyuruh Newt karena dia terikat dengan Unbreakable Vow dengan Grindelwald. Terus nyuruh Harry untuk berhadapan dengan Voldemort. Hmm… gimana menurut kalian, Ladies?

Cek juga videonya di sini, Ladies!

Comments

Loading...