OUR NETWORK

California Larang Zat Kimia Berbahaya dalam Produk Kecantikan dan Personal Care

California Larang Zat Kimia Berbahaya dalam Produk Kecantikan dan Personal Care
Foto: harpersbazaar.com

Industri kecantikan Amerika Serikat akan mengalami perubahan besar-besaran. Perubahan ini terkait dengan disahkannya larangan bahan kimia beracun di California, Amerika Serikat. Peraturan yang ditandatangani Gubernur Gavin Newsom ini akan mengubah komposisi kosmetik, sampo, pelurus rambut, dan seluruh rangkaian personal-care yang digunakan warga Amerika Serikat, yang tentunya akan berpengaruh terhadap pelanggan di seluruh belahan dunia.

Bahan kimia yang dilarang dalam peraturan tersebut mencapai 24 zat, termasuk merkuri, formaldehida, dan beberapa jenis zat per dan polifluoroalkil yang dikenal sebagai PFAS. Semua bahan kimia tersebut bersifat karsinogenik dan beracun sehingga tidak layak dimasukkan ke dalam produk kecantikan.

Larangan yang merupakan angin segar bagi warga Amerika Serikat dalam dunia kecantikan ini akan mulai diberlakukan pada tahun 2025.

Kurang lebih satu abad lamanya, peraturan terkait zat beracun dalam produk kecantikan ini tidak berubah. Sejak tahun 1938 sampai saat ini, hanya ada 11 bahan yang diatur oleh FDA, lembaga BPOM-nya Amerika Serikat. Hal ini sungguh berbanding terbalik dengan Uni Eropa yang sudah melarang lebih dari 1.600 bahan untuk kosmetik.

Dewan Produk Perawatan Pribadi, yang mewakili perusahaan besar seperti Amway dan Chanel mulanya ragu-ragu, tetapi pada akhirnya mendukung rancangan undang-udang ini. Tentu saja dukungan dari pelaku industri ini amat penting bagi pelaksanaan undang-undang ini di kemudian hari.

Sementara itu, bagi pekerja yang berinteraksi langsung dengan produk kecantikan, seperti pegawai salon, undang-undang ini adalah hal yang mereka tunggu-tunggu. Kristi Ramsburg, seorang penata rambut di Wilmington, N. C., menungkapkan bahwa dirinya terpapar produk beracun keras dan berbahaya, termasuk formaldehida dan ftalat selama 20 tahun kariernya. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa menghirup formaldehida dalam jumlah kecil dapat menyebabkan pneumonia atau pembengkakan hati. Kondisi ini telah diklasifikasikan sebagai karsinogen, menurut FDA.

Baca juga: Yuk, Ketahui Perbedaan antara Kosmetik Organik, Cruelty-free, dan Vegan 

Ramsburg sendiri mengaku bahwa dia sudah menjalani operasi pengangkatan kantong empedu, ovarium, dan usus buntu. Selain itu, livernya pun membengkak secara berbahaya. Setelah berkonsultasi dan membaca penelitian, dia meyakini bahwa penyebab kondisinya ini adalah formaldehida yang dia hirup selama lebih dari dua dekade.

Kisah horor seperti yang dialami Ramsburg lah yang memotivasi para legistalor dan industri kosmetik untuk mendukung undang-undang California. Undang-undang federal akan memberi FDA lebih banyak kekuatan untuk mengontrol dan menarik produk yang memiliki kandungan zat berbahaya, meskipun di-endorse oleh selebriti terkenal.

Keterbatasan FDA

Undang-undang yang saat ini berlaku sangat membatasi kinerja FDA. Dalam undang-undang ini, produk kosmetik tidak perlu disetujui FDA untuk dapat dijual ke konsumen. FDA bahkan tidak dapat campur tangan ketika asbes ditemukan dalam kosmetik yang dijual di toko retail Claire’s and Justice yang memiliki pelanggan anak muda. Dalam surat tahun 2019, Komisaris FDA pada saat itu, Scott Gottlieb menulis bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa karena “saat ini tidak ada persyaratan hukum bagi produsen kosmetik manapun untuk menguji keamanan produk mereka sebelum dijual pada konsumen.”

Penerapan undang-undang terbaru ini di California akan berdampak secara nasional karena statusnya sebagai ekonomi terbesar ke lima di dunia. Sebuah RUU akan mudah diloloskan apabila telah diterapkan terlebih dahulu di California, seperti yang terjadi pada aturan emisi mobil dan label nutrisi pada menu restoran.

Selain demi kesehatan warganya, aturan ini pun diyakini dapat meningkatkan geliat bisnis kecantikan Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir ini, konsumen memiliki kecenderungan untuk memiliki produk clean cosmetics. Drug store dan supermarket pun semakin beralih ke produk clean beauty. Misalnya saja toko CVS yang melarang penjualan produk yang mengandung paraben, ftalat, dan bahan kimia yang menandung atau mengeluarkan formaldehida.

Pemberlakuan undang-undang ini akan memaksa perusahaan kecantikan untuk memberikan transparansi dan konsistensi mengenai kandungan dari produk mereka. Dengan demikian, keselamatan dan keamanan masyarakat pun dapat lebih terjamin.

 

 

Sumber: sfchronicle.com

Comments

Loading...