OUR NETWORK
Geomedia - JFK 2022

Tarian Gandrung Sewu Kesenian Khas Banyuwangi Tak Lekang Waktu

Banyuwangi terkenal dengan negeri 1.000 festival, hal ini disebabkan wilayah tersebut mempunyai berbagai pertunjukkan menarik mulai dari awal sampai akhir tahun. Salah satunya adalah tarian Gandrung Sewu yang menjadi ciri khasnya.

Harus diakui pertunjukkan ini sangat menarik, kondisi tersebut dibuktikan dengan banyaknya pengunjung yang datang ketika acara berlangsung. Perlu diketahui sebenarnya, kesenian daerah ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Blambangan.

Menurut cerita rakyatnya, tarian ini dipersembahkan sebagai wujud rasa syukur kepada Dewi Sri atau Dewi Padi. Arti Gandrung sendiri adalah yang disenangi atau disukai. Tidak heran bila setiap gerakannya mengungkapkan kecintaan dan kesenangan.

Hal inilah yang jadi alasan mengapa banyak orang menyukai pertunjukannya dan terasa masih kurang bila hanya nonton satu kali. Sejarah lengkap dari kesenian tradisional ini diungkap oleh Sholte melalui tulisannya yang diunggah pada tahun 1927.

Di mana dulu, tarian ini sebenarnya dilakukan oleh seorang lelaki yang menyamar menjadi perempuan. Kemudian, diiringi dengan gendang khas suku Osing, ketika Islam masuk ke Banyuwangi.

Pertunjukkannya masih terus bergulir, hanya saja penarinya perlahan berubah menjadi perempuan. Tradisi itu masih diteruskan sampai saat ini, keadaan tersebut juga ditulis oleh oleh Hendrik Arkeulas Gerrits pada tahun 1871.

Pada tahun 1914 oleh seorang anak perempuan bernama Semi, tarian ini dipentaskan untuk pertama kalinya. Konon anak kecil tersebut sakit-sakitan dan sembuh bila menari Gandrung Sewu. Sejak saat itu, perempuan mengambil alih peran penari tersebut, hanya orang tertentu saja

Perlu diketahui bahwa, tidak sembarangan orang bisa melakukan pertunjukkan ini. Ada kepercayaan bahwa, yang boleh menarikan hanya pewaris keturunan penari sebelumnya. Hal itu selalu dilakukan hingga tahun 1972.

Setelahnya, ada banyak gadis mulai mempelajari dan menjadikannya sebagai sebuah pekerjaan. Kondisi tersebut terus terjadi sampai abad ke 20, walau harus berhenti sejenak karena, pergeseran budaya. Namun sekarang sudah banyak yang mempelajari kembali agar tidak putus begitu saja.

Perlu diketahui pula, dunia sudah mengakui bahwa Tarian Gandrung Sewu ini berasal dari Banyuwangi. Dimana, setiap orang yang melihat hatinya akan bergejolak dan tumbuh benih asmara, hal ini secara magis berpengaruh hingga sekarang.

Bercerita mengenai perjuangan perang

Hampir semua tarian mempunyai sebuah cerita yang dapat dikisahkan melalui berbagai macam gerakan. Begitu pula dengan Tarian Gandrung Sewu, dulu mereka menyajikannya dalam bentuk ungkapan.

Hanya saja, setelah masa kemerdekaan cerita tersebut akhirnya diubah menjadi seluruh perjuangan perang yang dilakukan oleh masyarakat Banyuwangi dalam mengusir penjajah agar tidak menginjakkan kaki di wilayahnya.

Inilah salah satu wujud penghormatan kepada para pahlawan yang sudah gugur, diharapkan pula seluruh masyarakat Indonesia tetap mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai hal positif. Perlu diketahui pula bila tarian ini sebenarnya disajikan semalam suntuk.

Karena, pada dasarnya untuk menarikannya ada tiga tahapan yaitu jejer, maju, seblang, dimana setiiap tahapan tersebut mempunyai durasinya. Tidak heran bila dulu, para penari harus memiliki fisik yang kuat.

Hanya saja, sekarang semua rangkaiannya itu sudah diubah dan pertunjukkannya jauh lebih singkat hanya 60 menit saja. Tetapi, tidak mengurangi esensi dari pertunjukkan yang selalu digelar pada akhir tahun tersebut.

Penonton ikut menari

Ada satu hal yang menarik saat melihat pertunjukkan ini. Dimana, ada sebuah tahapan bernama ngibing, hal ini dilakukan para penari dan diberikan kepada salah satu tamu. Kemudian, mereka mengajaknya mengikuti iringan.

Hal tersebut dilakukan kepada tamu penting terlebih dulu, kemudian berlanjut ke penonton lainnya. Kondisi inilah yang menyebabkan pertunjukan kesenian ini belangsung cukup lama. Selain meminta penonton ikut, ada satu tahapan yang memang tidak diperlihatkan bagaimana prosesnya.

Adalah seblang shubuh yang menjadi ritual awal sebelum para penari melakukan tugasnya. Ada beberapa orang percaya bahwa, pertunjukkan ini masih mempunyai nilai magis, jadi harus melakukan berbagai macam ritual terlebih dulu.

Sebelum menari ada beberapa aksesoris yang harus digunakan terlebih dulu, seperti omprok-omprok yang terbuat dari kulit kerbau, disamak, kemudian diberi ornamen berwarna emas,merah hingga anthasena sebagai bagian dari penutup kepala atau hiasan mahkota.

Selanjutnya, mash ada selendang, kain batik, baju atasan, serta kipas hampir semuanya berwarna merah. Biasanya jumlah penari ada 1.000 orang, bagaimana sudah siap melihat pertunjukan tarian Gandrung sewu?

Must Read

Related Articles