OUR NETWORK
From Korea With Love Concert

Mengenal Suku Gayo yang Terkenal Dengan Keramahan dan Kopinya

Salah satu wilayah di Provinsi Aceh bagian tengah ada yang namanya dataran tinggi Gayo. Disanalah tempat tinggal Suku Gayo yang menurut data sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduknya mencapai 336.856 jiwa.

Mereka beragama islam dan sangat taat dalam menjalankan agama. Dalam percakapan sehari-hari, masyarakat menggunakan bahasa asli yang disebut dengan “Northwest Sumatra-Baririer Island” dari rumpun bahasa Austronesia.

Menariknya, untuk dialek bahasa memang sedikit berbeda. Misalnya di wilayah Lokop dengan Kalul, Lut, Linge, serta Lues. Kondisi ini dipengaruhi oleh bahasa Aceh Timur yang memang sangat dominan di sana.

Dalam penggunaan bahasa, pemakaian ko (lebih tua) dan kam (lebih muda) sering digunakan untuk menunjukan “kamu”. Harus diakui bahwa, Bahasa Gayo Lut sendiri dinilai lebih sopan dan sangat halus.

Asal-Usul Dari Suku Gayo

Mengenal Suku Gayo yang Terkenal Dengan Keramahan dan Kopinya
Sumber: adatnusantara.com

Suku ini sendiri termasuk dalam golongan ras Proto Melayu dan berasal dari India. Ada satu teori menarik mengenai asal-usul suku ini, beberapa masyarakat sangat percaya kalau Gayo sendiri berasal dari sebuah kata yaitu Pegayon.

Bila diterjemahkan, artinya adalah sumber air jernih tempat ikan suci dan kepiting. Dalam cerita sejarah lain menyebutkan bahwa asal-usul suku ini sendiri berasal dari Kerajaan Linge yang sudah berdiri sejak tahun 1025 Masehi.

Ada versi cerita yang mengatakan dulunya, masyarakat sekitar sempat melarikan diri karena, tidak ingin masuk islam. Mereka melakukan pelarian ke wilayah dataran tinggi yang ada di hulu sungai.

Hingga akhirnya, mereka masuk Islam dengan sendirinya. Konon katanya, kelompok tersebut menjadi cikal bakal dari terbentuknya Suku Gayo yang membangun rumah dan menata kehidupan sosial dan tradisi sampai sekarang.

Kehidupan Masyarakat Sekitar

Mengenal Suku Gayo yang Terkenal Dengan Keramahan dan Kopinya
Sumber: pinterest.com

Penduduk Suku Gayo sendiri mempunyai sebuah rumah adat yang bernama Umah Oitu Ruang atau rumah tujuh ruang, berbentuk semacam panggung. Untuk lebarnya sendiri kurang lebih 12 meter dan panjang 9 meter.

Dalam adat dan budaya mereka, rumah adat termasuk dalam pembangunannya tidak menggunakan paku melainkan, dipasak dengan kayu serta berbagai macam ukiran berbentuk hewan hingga kesenian.

Masyarakat sekitar sendiri juga mempunyai pakaian adat, untuk lelaki dinamakan Aman Mayok. Sementara, bagi perempuan menyebutnya sebagai Inneun Mayok. Bila kamu kenakan, rasanya sangat nyaman dan bagus.

Suku Gayo juga mengenal prinsip Patrilineal, di mana untuk alur keturunannya mengikuti pihak dari ayah. Bukan hanya Gayo saja, beberapa suku di Aceh juga menganut sistem ini, seperti Minahasa, Nias, dan Batak.

Tradisi dan Adat Istiadat

Mengenal Suku Gayo yang Terkenal Dengan Keramahan dan Kopinya
Sumber: travelkompas.com

Masyarakat sekitar masih menjunjung tinggi tradisi dan adat istiadat seperti, Pepongoten merupakan ratapan irama yang selalu dilakukan saat peristiwa kematian atau pernikahan. Biasanya disampaikan oleh seorang perempuan.

Menariknya Pepongoten ini sudah ada sebelum islam masuk ke tanah Gayo. Sayangnya, saat ini yang tradisi tersebut sudah banyak ditinggalkan, walaupun beberapa wilayah masih melestarikan namun jumlahnya memang sedikit.

Pacuan Kuda

Salah satu hal paling menarik di sini adalah hadirnya pacuan kuda yang masih terus diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Biasanya, hewan ini juga difungsikan sebagai pembajak sawah, biasanya diadakan di wilayah Takengon.

Bejamu Saman

Tradisi ini merupakan pergelaran Saman di mana pertunjukan tersebut diadakan selama dua hari dua malam. Biasanya ada dua kampung yang tampil dan berbagai peran sebagai tuan rumah serta tamu undangan.

Tradisi ini dilakukan untuk mengirimkan salah satu pemuda desanya untuk meminang seseorang di desa lain. Setiap anggota grup akan tinggal sebagai saudara, hal ini memberikan berbagai nilai persaudaraan dan berlanjut ke anak cucu.

Suku Gayo menjadi yang terbesar nomor dua di Aceh, di mana sebagian besar dari mereka adalah petani kopi. Harus diakui, cita rasanya sangat nikmat dan sampai saat ini sudah mendunia. Rasanya berkunjung ke sini ada sebuah kewajiban bila ada waktu.

Must Read

Related Articles