OUR NETWORK
Geomedia - JFK 2022

Menaikkan Derajat Keluarga Dengan Tradisi Karapan Sapi

Tradisi karapan sapi merupakan atraksi budaya masyarakat Madura yang setiap tahun selalu diselenggarakan. Tepatnya bulan Agustus atau September untuk babak kualifikasinya. Sementara, partai final akan diselenggarakan bulan September atau Oktober.

Dulu perhelatan tersebut diadakan di kawasan Pamekasan dalam rangka merebut piala presiden. Hanya saja, sekarang namanya sudah diganti menjadi Piala Gubernur. Keseruannya selalu dinantikan bukan hanya wisatawan lokal saja, luar daerah hingga mancanegara juga menunggu pertunjukan tersebut.

Walaupun tidak memiliki trek panjang, namun keahlian mereka untuk tetap bertahan di atas dan memacu sapi agar bisa berlari cepat adalah daya tariknya. Harus diakui bisa bertahan selama 1 meter saja sudah bagus, jika berkesempatan berkunjung tidak ada salahnya mencoba.

Sejarah tradisi karapan sapi

Menaikkan Derajat Keluarga Dengan Tradisi Karapan Sapi
Sumber: detik.com

Sejarah dari tradisi ini sendiri memang belum pasti kapan masyarakat Pulau Madura memulainya. Hanya saja, menurut beberapa sumber dalam kehidupan mereka sapi tersebut mempunyai nilai yang sangat penting, karena kedudukannya sebagai raja. Bahkan, beberapa orang percaya bahwa raja sapi itu ada, untuk jantan berada di sebuah pulau tepatnya timur Madura namanya Sapudi. Sementara, betinanya terletak di Desa Gadding, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep.

Perlu diketahui, bagi masyarakat Pulau Garam ini pemeliharaan hewan tersebut sangat penting karena, bisa dijadikan sebagai salah satu indikator status sosial. Apabila dalam tradisi karapan sapi mereka keluar sebagai pemenang.

Tidak heran bila dalam pemeliharaannya bukan main. Terutama di wilayah Sapudi yang dimulai sejak abad ke-14 oleh panembahan Wlingi (Wirobroto) selanjutnya, dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Adipody.

Perawatan itu menunjukkan hasil terutama ketika masa pertanian tiba. Mereka membawa sapi yang sudah dirawat sedemikian rupa untuk membajak dan hasilnya memang mengesankan. Dari sinilah awal mula hadirnya Tradisi karapan sapi. Karena suka cita para petani tersebut, akhirnya mereka mengadakan lomba agar cepat selesai. Kebiasaan ini terus dilakukan dan muncul istilah garaban atau garab yang artinya kerja cepat.

Versi lain dari sejarah hadirnya tradisi tersebut tidak lepas dari peran Kyai Pratanu. Pada abad ke-16 menjadikan karapan atau kerapan sapi ini sebagai sarana dakwahnya. Ada sumber lain pula bercerita mengenai Syeikh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur) seorang mubaligh yang menyebarkan ajaran islam melalui bercocok tanam.

Ketika sudah panen, demi mengungkapkan rasa syukur akhirnya dibuatlah lomba dengan melaksanakan pacuan sapi. Namanya sendiri diambil dari bahasa Arab yaitu kirabah, seiring perkembangan zaman akhirnya berubah menjadi karapan.

Perubahan budaya dan kultur

Menaikkan Derajat Keluarga Dengan Tradisi Karapan Sapi
Sumber: okeonenews.com

Tradisi karapan sapi sebenarnya bertujuan sebagai hiburan serta ungkapan rasa syukur, bisa juga permainan antar petani agar tidak jenuh. Hanya saja semua itu mulai berubah sejak tahun 1970, dimana ada perubahan budaya dan kultur.

Artinya, ajang ini bukan lagi untuk hiburan melainkan sebagai upaya menaikkan status sosial. Pada dasarnya hal itu menjadi kewajaran, karena perawatan yang dibutuhkan tidak murah dan mudah.

Kemenangan yang didapat memberikan bukti bahwa, mereka selalu memperhatikan sapi tersebut dengan baik. Kelakar inilah yang perlahan tapi pasti mampu mengubah kultur serta budayanya.

Perlu diketahui, kerapan sapi ini dibagi dalam beberapa kategori mula dari yang kecil sampai besar atau raja. Panjang lintasannya kurang lebih 100 meter dengan sapi yang berkualitas, dimana kulitnya bersih, anggun, serta kekuatan berlarinya sangat kuat dan cepat.

Gelaran karapan sapi

Menaikkan Derajat Keluarga Dengan Tradisi Karapan Sapi
Sumber: surymalang.tribunnews.com

Dalam lomba ini ada banyak pihak terlibat didalamnya, seperti pemilik sapi itu sendiri, tongko (mengendalikan pacuan sapi di atas kaleles), Tambeng (menahan tali sapi sebelum di lepas), gettak (bertugas menggertak sapi agar bisa melesat cepat), tonja (menarik serta menuntun sapi), gubrak (pemandu sorak yang memberikan semangat serta aba-aba agar sapi terpacu berlari cepat).

Sebelum pertandingan dimulai biasanya hewan tersebut diarak terlebih dulu ke area agar otot melemas, selain itu sebagai metode pamer keindahan baik pakaian hingga perhiasan yang dikenakan, setelah parade ini selesai baru semuanya akan dilepas.

Untuk perlombaannya sendiri memakai sistem gugur, jadi ada beberapa peserta dalam babak satu, dua, tiga, hingga ke final. Siapa yang kalah mereka gugur dan pemenangnya berhak melaju ke babak berikutnya.

Pertunjukan tradisi karapan sapi ini memang mengesankan, tidak bisa dipungkiri saat melihatnya menghadirkan keseruan maksimal, tidak heran bila bulan Agustus sampai Oktober banyak wisatawan datang untuk melihatnya secara langsung, bagaimana denganmu sudah punya agenda yang sama atau belum?

Must Read

Related Articles