OUR NETWORK

Burnout Syndrome, Definisi dan Apa Saja Gejalanya?

Burnout Syndrome, Definisi dan Apa Saja Gejalanya?
Foto: bustle.com

Dengan persaingan dunia kerja yang sangat ketat, wajar jika kamu melakukan usaha yang lebih dari yang lainnya. Namun, sayangnya, tanpa disadari pekerjaan yang dilakukan sehari-hari bisa menimbulkan stres yang amat sangat. Hal-hal yang sebelumnya sangat menarik minatmu belakangan malah serasa membosankan. Mari istirahat sejenak Ladies, mungkin kamu sekarang sedang dalam kondisi burnout syndrome. Yuk kenali lebih jauh mengenai burnout, gejala, dan sedikit penangannya.

Baca juga: Celibacy Syndrome yang Menghantui Jepang

Pengertian Burnout Syndrome

Burnout Syndrome, Definisi dan Apa Saja Gejalanya?
Foto: grid.id

David Ballard, Psy.D., American Psychological Association mendeskripsikan burnout syndrome sebagai periode psikologis seseorang merasakan lelah baik secara emosi, psikologis, dan fisik yang diakibatkan oleh tekanan kerja ataupun stres dalam jangka waktu lama. Jika tidak segera diatasi, kondisi seperti ini akan mengakibatkan kualitas kehidupan, baik itu kesehatan, kebahagiaan, hubungan, dan kinerja jadi menurun.

Gejala-Gejala Tubuh Mengalami Burnout Syndrome

Burnout Syndrome, Definisi dan Apa Saja Gejalanya?
Foto: thegoodluck.com

Dr. Ballard memberikan setidaknya ada 10 tanda seseorang sedang mengalami burnout syndrome. Apa sajakah itu?

  1. Kelelahan yang berkepanjangan, meski sudah banyak istirahat namun tetap saja merasa lemas dan rasanya tidak memiliki energi.
  2. Kurangnya motivasi dan tidak merasa antusias dengan berbagai hal.
  3. Frustasi, sinis, dan mudah marah.
  4. Mengalami masalah kognitif, seperti susah berkonsentrasi.
  5. Kualitas pekerjaan menurun seiring waktu.
  6. Memiliki masalah personal, baik di rumah ataupun di tempat kerja.
  7. Tidak merawat diri sendiri.
  8. Disibukkan dengan pekerjaan saat libur dan kerap menundanya.
  9. Kepuasan yang menurun.
  10. Terjadi masalah dengan kesehatan, misalnya saja gangguan pencernaan, depresi, ataupun juga obesitas.

Cara Mengatasi Burnout Syndrome

Burnout Syndrome, Definisi dan Apa Saja Gejalanya?
Foto: womensrunning.com

Jika kamu sudah mendapati gejala-gejala di atas tengah menyerang, sebaiknya segera mencari cara untuk mengatasinya. Berikut ini ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi burnout syndrome.

Mendapatkan Tidur yang Cukup

Penelitian menunjukkan jika tidur kurang dari 6 jam setiap harinya merupakan salah satu faktor munculnya burnout. Kurang tidur bisa menyebabkan kelelahan, kurangnya motivasi dalam bekerja, dan membuatmu semakin sensitif. Maka dari itulah, tidur yang cukup merupakan salah satu cara yang dianjurkan.

Lakukan Relaksasi Secepatnya

Untuk mengembalikan semuanya, cara mudah lain yang bisa kamu lakukan adalah melakukan relaksasi secepatnya. Mulai dari melakukan meditasi, mendengarkan musik, membaca buku, jalan-jalan, bertemu dengan teman atau keluarga atau lakukan hal-hal lainnya yang membuatmu merasa rileks. Lakukan hal ini secara rutin supaya burnout jauh-jauh ya. 

Baca juga: Relaksasi Diri dengan Traveling ke 5 Negara Ini

Puasa Smartphone

Tanpa kamu sadari, smartphone yang dibawa kemanapun ini juga menjadi salah satu penyebab burnout lho, Ladies. Maka dari itulah, di waktu-waktu tertentu usahakan untuk puasa gawai. Misalnya saja saat family time, liburan, ataupun berbagai aktivita sosial lain. Batasi penggunaan smartphone dan atur waktu membuka email.

Lakukan Penyembuhan dari Dalam

Burnout syndrome ini berhubungan erat dengan kondisi psikologis seseorang, maka dari itulah, lakukan juga yang namanya penyembuhan dari dalam. Mulai dari makin memperhatikan self-care, refleksi diri, bergabung dengan komunitas, dan menambah rasa syukur. Menghabiskan banyak waktu untuk bekerja membuat kita kerap kali tidak mensyukuri hal-hal baik yang telah terjadi. Maka dari itu, berhenti sejenak dari segala rutinitas, dan sembuhkan kelelahanmu.

Ladies, jika rasanya sudah mau ‘meledak’ sebaiknya jangan dipaksakan ya. Semua yang berlebihan juga tidak baik lho. Istirahatkan tubuh dan pikiran supaya tak terjadi hal-hal yang lebih buruk di masa depan.

 

Sumber: forbes, themuse, medicalnewstoday

Comments

Loading...