OUR NETWORK

MeraMuda Review: ‘Gundala’

MeraMuda Review: ‘Gundala’
Foto: tokopedia.com

Akhirnyaaa… setelah sekian lama nggak ke bioskop, saya menyempatkan diri untuk nonton Gundala. Apalagi menjelang premiere, diumumkan juga rencana pembuatan Jagat Sinema BumiLangit. Udah nebak sih akan dibuat jagat sinemanya, tapi ternyata progress-nya udah sampai pemilihan cast. Senangnya… Oke, sekarang mengenai filmnya.

Gundala Putra Petir

Cerita dihiasi beberapa adegan kilas balik yang mengisahkan tragedi yang dialami Sancaka dan Pengkor kecil. Dengan nuansa horor yang khas Joko Anwar, kita dibawa bolak-balik dengan perjalanan Sancaka yang sudah beranjak dewasa. Hidup luntang-lantung sejak kecil, Sancaka tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Tapi Sancaka akhirnya tergerak ketika tetangganya, Wulan (Tara Basro) dan adik kecilnya terus diganggu oleh preman. Rupanya Wulan ingin melindungi para pedagang dari preman suruhan yang terus mengobrak-abrik pasar. Awalnya hanya ingin melindungi para pedagang, Sancaka akhirnya menemukan kekuatannya. Ia pun harus berhadapan dengan Pengkor dan anak-anaknya yang sudah terlatih membunuh.

MeraMuda Review: ‘Gundala’
Foto: tirto.id

Nama Putra Petir tidak digunakan mungkin karena origin Sancaka menjadi Gundala di sini sedikit berbeda. Di komik dan di versi film terdahulunya (1981), Sancaka mendapat kekuatannya setelah tersambar petir, lalu bertemu Raja Petir Kronz, dan diberi kalung ajaib. Sedangkan di film ini, Sancaka langsung mendapat kekuatan setelah tersambar petir. Saya berharap bagian ini dijelaskan dengan lebih detail. Bagaimana Sancaka bisa mengendalikan kekuatannya dan fungsi kostumnya sendiri. Kalau saya nggak nonton banyak superhero sebelumnya, mungkin akan terasa jauh lebih membingungkan lagi.

Terlalu Banyak Karakter

Banyaknya karakter yang diperkenalkan membuat film terasa begitu cepat dan lompat-lompat. Jadi, adegan biasa saat Sancaka berinteraksi dengan Wulan dan lain-lain terasa lambat. Adegan berantem dengan tangan kosong dipenuhi teriakan tapi terasa banget koreografinya. Soal efek visual, walaupun bisa lebih bagus lagi, sudah cukup baik dan nggak bikin sakit mata, Ladies. Cuma yaaa itu. Saya ngerasa ada banyak banget karakter yang diperkenalkan demi ‘persiapan’ film-film Jagat Sinema BumiLangit selanjutnya.

Kita juga hanya berkenalan sekilas dengan anak-anak Bapak yang unik-unik itu. Bisa siiih lihat di IMDb kalau mau tahu nama-namanya dan Googling sendiri. Btw, karakter Desti Nikita yang diperankan Asmara Abigail itu referensi langsung ke karakter Gogo di Kill Bill (yang juga referensi dari Battle Royale) atau bukan sih?

Secara keseluruhan film ini layak ditonton dan jadi pembuka yang baik untuk Jagat Sinema BumiLangit. Nggak usah berharap ketinggian saat menontonnya, tapi ya. Hehe. Oh iya, filmnya juga punya rating 13+. Ada banyak adegan perkelahian. Jadi, nggak usah deh ajak anak, adik, atau keponakan yang masih kecil untuk nonton film ini. Budayakan cari tahu dulu soal filmnya sebelum nonton supaya nggak misuh-misuh karena filmnya “banyak adegan berantemnya” ya, Ladies.

Comments

Loading...