OUR NETWORK
Geomedia - JFK 2022

Mengenal Tradisi Sekaten Sebagai Upacara Memperingati Maulid Nabi

Masyarakat Jawa sampai saat ini masih menjunjung tinggi adat dan istiadat mereka, salah satunya adalah tradisi sekaten yang masih dilestarikan sampai saat ini. Jika dicermati, upacara ini sebenarnya sebagai peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Biasanya diadakan pada 5 sampai 11 Rabiul Awal dan ditutup dengan Grebeg Mulud esok harinya. Walaupun Solo dan Jogja sudah berpisah, adat istiadat tersebut masih terus dilaksanakan dan menjadi salah satu pusat hiburan masyarakat. Tidak heran bila setiap ada sekaten, banyak orang datang menikmati berbagai wahana. Aneka makanan kekinian sampai tradisional serta berbelanja berbagai kebutuhan. Semua ada disini tersedia dengan harga terjangkau.

Asal-usul dari tradisi sekaten

https://meramuda.com/gadgets/smartphone-huawei-nova-9-melanjutkan-serie-nova-yang-melegenda/
Foto: phinemo.com

Sebelum berkembang di wilayah Solo dan Yogya, sebenarnya tradisi ini sudah ada sejak zaman kerajaan islam berkuasa di Tanah Jawa, terutama Demak. Di mana dulu waktu hari lahir tiba, keraton biasa memainkan Gamelan di Masjid Agung Demak. Ternyata apa yang dilakukan itu disukai oleh masyarakat luas.

Hal tersebut di adaptasi oleh Kasunanan Yogyakarta dan Surakarta dengan penambahan bacaan shahadat. Menurut para ahli, nama Sekaten sendiri memang diambil dari sana dan mempunyai perluasan makna cukup mendalam.

Menariknya, makna yang tersirat didalamnya mengandung berbagai pesan kehidupan yang harus dilakukan oleh umat manusia. Tidak heran bila tingkat sakral yang dihadirkan dari kegiatan ini sangat tinggi.

Prosesi tradisi sekaten

https://meramuda.com/gadgets/smartphone-huawei-nova-9-melanjutkan-serie-nova-yang-melegenda/
Foto: yoursay.siara.com

Dalam prosesnya, tradisi ini akan dilakukan selama satu minggu penuh. Dimulai pada tanggal 5 Rabiul Awal, gamelan akan dibunyikan mulai dari jam 4 sore sampai 11 malam, sebagai pertanda dibukanya acara ini. Setelah pukul 11 malam, gamelan ini akan dipindahkan ke pagongan di Halaman Masjid Besar. Menunggu 6 hari kedepan, masyarakat akan disuguhkan dengan pasar tradisional, di alun-alun utara.

Biasanya akan buka selama 24 jam, tetapi khusus wahana permainan hanya buka mulai sore hari saja. Selanjutnya, tepat pada 11 Rabiul Awal Sri Sultan akan pergi ke Masjid Besar dan membacakan pengiring diikuti oleh para pengiringnya. Hal ini menjadi pertanda bahwa gelaran ini sudah selesai. Gamelan yang ada juga dikembalikan lagi keraton dari masjid. Selanjutnya, ada numpak wajik di istana magangan selama dua hari dimulai pukul 6 sore.

Baca juga: Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Penjuru Nusantara

Numpak wajik merupakan upacara musik berupa kentongan hingga lumping dengan menyanyikan lagu jawa, tradisi ini merupakan awal dalam pembuatan gunungan. Setelah itu, esoknya akan diadakan Grebeg Muludan, acara ini adalah puncak dari Sekaten.

Dalam Grebeg Muludan tersebut akan dimulai pada pukul 8 sampai 10 pagi dan dikawal langsung oleh para prajurit Keraton terdiri dari, Wirabraja, Dhaheng, Patangpuluh, Jagakarya, Nyutra, Prawiratan, Mantrirejo, Ketanggung, Bugis, Sukarsa, dan Ketanggung.

Ada juga gunungan yang berisi beras ketan hingga buah-buahan, di mana nanti hasil bumi tersebut akan menjadi rebutan para warga dan dibawa pulang sebagai sebuah keberkahan bagi siapa saja yang mendapatkannya.

Pantangan abdi dalem dalam tradisi sekaten

https://meramuda.com/gadgets/smartphone-huawei-nova-9-melanjutkan-serie-nova-yang-melegenda/
Foto: donisetyawan.com

Dalam menyelenggarakan tradisi ini ada beberapa pantangan harus dilaksanakan terutama untuk abdi dalem. Di mana tugasnya adalah memukul gamelan kyai sekati, saat seluruh acara berlangsung mereka dilarang untuk berkata kasar atau melakukan perbuatan tercela.

Mereka dilarang pula untuk melangkahi gamelan, jadi harus lewat samping. Sebelum melakukan tugas menabuh para abdi dalem wajib mandi jamasan serta mensucikan diri terlebih dulu.

Terakhir, semuanya dilarang keras membunyikan atau memukul gamelan pada malam jum’at sampai siang hari. Setidaknya, setelah waktu dzuhur tiba. Hal ini sudah menjadi pedoman dan selalu dilaksanakan setiap tahunnya.

Harus diakui bila Tradisi ini merupakan salah satu alasan terbaik mengapa Anda harus datang ke Jogja dan menyaksikan keseruannya dari awal sampai akhir. Apakah kamu sudah pernah menyaksikan Tradisi sekaten ini? Bagaimana menurut pendapatmu?

Must Read

Related Articles