OUR NETWORK

MeraMuda Review: ‘Brahms: The Boy II’

MeraMuda Review: ‘Brahms: The Boy II’
Foto: IMDb.com

Boneka menyeramkan yang didiami oleh entitas jahat memang selalu menjadi tema horor yang menarik untuk disimak. Roh siapa yang mendiaminya? Apa yang diinginkannya? Mungkin itu pertanyaan yang ada di benak penonton sepanjang film. Sebenarnya saya bahkan belum nonton film pertamanya, The Boy (2016), tapi film Brahms: The Boy II ini tetap bisa dinikmati tanpa gangguan.

Sinopsis

Sedikit kilas balik yang saya dapat dari Googling, tentunya. Di film pertama, dikisahkan bahwa Brahms dititipkan kepada seorang pengasuh bernama Greta. Mr dan Mrs Heelshire menitipkan boneka itu lengkap dengan segala peraturannya untuk pergi berlibur. Belakangan diketahui bahwa mereka sebenarnya mengakhiri hidup mereka sendiri. Dan bocah bernama Brahms yang awalnya dikira sudah tewas, ternyata masih hidup dan mendiami sekat-sekat di tembok dan loteng rumah keluarga Heelshire. 

Di film ini, kisah berfokus kepada Jude. Bocah ini mengalami selective mutism, menolak bicara dan hanya berkomunikasi melalui kata-kata yang dituliskan di notepad yang selalu dibawanya. Ini terjadi setelah suatu malam Jude melihat ibunya, Liza (Katie Holmes) diserang oleh perampok. Selain berdampak ke Jude, Liza juga sering bermimpi buruk. Sean (Owain Yeoman) pun berinisiatif mengajak anak dan istrinya itu untuk staycation nih, Ladies. Sayangnya, yang mereka pilih adalah kediaman keluarga Heelshire dengan segala sejarah kelamnya. Sebelum booking, apa tidak lihat review-nya dulu, Pak Sean?

Setelah sampai dan berjalan-jalan di hutan sekitar tempat mereka menginap, Jude dan orang tuanya melihat rumah keluarga Heelshire yang terbengkalai. Di hutan itu juga Jude menemukan Brahms setelah mendengar bisikan-bisikan yang memanggil namanya. Mereka juga bertemu dengan Joseph alias Joe, seorang penjaga di kompleks permukiman itu.

Semakin lama, muncul keanehan di tempat mereka menginap itu. Awalnya Liza curiga bahwa ini adalah ulah Jude yang mungkin sedang menyalurkan amarahnya. Akhirnya, mereka menyadari bahwa Brahms memang benar-benar ‘hidup’.

Porsi yang Pas

Dari apa yang saya tangkap dari sejarah yang dikisahkan cepat dan hanya sekilas di film ini, sepertinya entitas yang mendiami boneka Brahms sudah ada jauh sebelum peristiwa di film pertama. Arwah jahat di boneka inilah yang memengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan jahat. Bahkan, setelah Brahms seakan telah berhasil dimusnahkan. Potensi menarik untuk sekuel atau franchise sih.

MeraMuda Review: ‘Brahms: The Boy II’
Foto: IMDb.com

Buat kamu yang penasaran, tapi sebenarnya nggak suka ditakut-takuti, menurut saya Brahms: The Boy II adalah horor dengan porsi yang pas. Buat saya film ini nggak terlalu menakutkan sampai bikin nggak bisa tidur. Jump scare-nya nggak segitunya bikin jantung terasa mau copot. Ceritanya agak lambat dan nggak terlalu berat untuk diikuti. Durasinya juga cukup singkat, hanya 1 jam 26 menit. Selain Katie Holmes, pemain yang saya kenali wajahnya hanya Ralph Ineson yang berperan sebagai Joseph. Namun, semua cast-nya juga berperan dengan akting yang cukup oke.

Setelah nonton saya malah lebih penasaran soal kisah penghuni rumah itu sebelumnya dan bagaimana awalnya Brahms bisa jadi jahat begitu. Jadi, kalau kamu mencari tontonan seru di weekend ini, Brahms: The Boy II bisa menjadi salah satu pilihan ya, Ladies.

Comments

Loading...