OUR NETWORK

Peringati Hari Ginjal Sedunia 2019, Kementerian Kesehatan RI dan Sektor Swasta Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan Ginjal

Peringati Hari Ginjal Sedunia 2019, Kementerian Kesehatan RI dan Sektor Swasta Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan Ginjal
Foto: dok. Eugenia

Hari Ginjal Sedunia atau World Kidney Day diperingati di hari Kamis kedua di bulan Maret setiap tahunnya. Tahun ini, Fresenius Medical Care Indonesia, Asosiasi PERNEFRI, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan beberapa sektor swasta, kembali membuat program kesehatan ginjal untuk masyarakat. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Kidney Health for Everyone Everywhere”. Rencananya program ini menitikberatkan pada pencegahan penyakit dan peningkatan akses terkait pelayanan kesehatan ginjal untuk masyarakat Indonesia.

Tema ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penyakit ginjal setiap tahunnya, baik di Indonesia maupun dunia. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, persentase penyakit ginjal kronis (PGK) terbilang tinggi. Dengan angkat sebesar 3,8%, persentasenya naik sebesar 1,8% dari tahun 2013.

Baca juga: Ini Cara Mengendalikan Keseimbangan Cairan Tubuh Seharian

“Saat ini diperkirakan sekitar 10% penduduk dunia menderita PGK. Prevalensi PGK cenderung lebih tinggi di negara berkembang. Di Asia Tenggara, prevalensi PGK sangat beragam, diantaranya di Malaysia sekitar 9,1%, di Thailand 16,3%. Angka yang tidak jauh berbeda dengan laporan dari Prodjosudjadi W. tahun 2006 di mana prevalensi PGK di Indonesia saat itu ialah 12,5%. Sehingga perkiraan kejadian PGK saat ini mungkin jauh lebih tinggi dari data Riskesdas 2018,” jelas Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI), Dr. Aida Lydia, PhD., Sp.PD-KGH dalam konferensi pers World Kidney Day (13/3) di Hotel JS Luwansa, Jakarta.

Peningkatan PGK ini pun berpengaruh besar pada beban negara. Pasalnya, berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) di tahun 2017, tercatat sebanyak 3.657.691 prosedur dialisis dengan total biaya sebesar 3,1 triliun rupiah.

“Pada tahun 2017, JKN menghabiskan dana sebanyak 2,2 triliun rupiah untuk pasien gagal ginjal. Hal ini menjadi pengeluaran nomor tiga tertinggi setelah penyakit jantung dan kanker,” ungkapnya.

Peringati Hari Ginjal Sedunia 2019, Kementerian Kesehatan RI dan Sektor Swasta Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan Ginjal
Foto: dok. Eugenia

Selain itu, akses yang belum merata di Indonesia pun dinilai menjadi masalah utama yang perlu dihadapi dalam menanggulangi PGK.

“Letak geografis Indonesia yang terdiri dari negara kepulauan, keterbatasan sarana transportasi, jumlah dokter spesialis ginjal dan perawat ginjal yang masih kurang, merupakan tantangan tersendiri untuk mencapai pelayanan yang diperuntukkan untuk siapa saja dan di mana saja di seluruh negara Indonesia,” tambah Aida.

Kurang memadainya kebijakan dan strategi nasional untuk Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non-Communicable Diseases (NCD) menjadi salah satu penghambat. Pasalnya, menurut Aida, penderita PGK yang tidak tertangani dengan baik dan cepat, dapat beresiko mengalami komplikasi hingga kematian.

“Jika seseorang memasuki stadium akhir dari penyakit ginjalnya, maka, ia akan membutuhkan suatu terapi pengganti ginjal, di antaranya ialah hemodialisis, peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal,” ucap Aida. Berdasarkan Data Indonesian Renal Registry (IRR) hingga tahun 2017 jumlah pasien aktif yang menjalani hemodialisis sebanyak 77,892 orang. Sementara pasien baru ialah 30,843 orang, 59% diantaranya berusia produktif sekitar 45-64 tahun. Adapun penyebab gagal ginjal terbanyak di Indonesia diakibatkan oleh hipertensi sebanyak 36% dan diabetes sebanyak 29%.

Aida menambahkan, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mencegah PGK, yakni pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer dilakukan melalui program skrining yang bertujuan untuk mendeteksi masyarakat yang berisiko terkena penyakit ginjal. Sedangkan pencegahan sekunder dilakukan untuk mencegah para penderita PGK mengalami penurunan fungsi ginjal yang lebih berat. Hal ini dinilai dapat mengurangi jumlah pasien yang harus menjalani terapi pengganti ginjal.

Adapun penatalaksanaan penyakit ginjal yang ideal dimulai dari promotif preventif, diagnosis dan terapi dini, penatalaksanaan gagal ginjal dengan terapi pengganti ginjal, sampai rehabilitasi dan terapi paliatif. Namun, menurut Aida, yang paling penting ialah peran aktif dari masyarakat.

Untuk memaksimalkan peran aktif masyarakat, Kementerian Kesehatan telah menyelenggarakan berbagai program yang melibatkan masyarakat. Misalnya Gerakan Masyarakat Sehat (Germas), Posyandu, program imunisasi, dan lainnya.

Selain itu, Aida mengatakan, masyarakat juga dapat melakukan pencegahan dengan cara-cara sederhana yang diterapkan dalam hidupnya secara teratur agar terhindar dari penyakit ginjal. Diantaranya berolahraga secara teratur 30 menit sehari, 5 kali dalam seminggu, makan makanan sehat, banyak mengonsumsi sayur dan buah, kurangi konsumsi garam. Kita juga harus cukup minum air putih, menjaga berat badan ideal, serta rajin memeriksakan kesehatan meliputi tekanan darah dan fungsi ginjal.

Peringati Hari Ginjal Sedunia 2019, Kementerian Kesehatan RI dan Sektor Swasta Tingkatkan Akses Layanan Kesehatan Ginjal
Foto: dok. Eugenia

Di sisi lain, untuk mendukung misi pencegahan kemunculan penyakit ginjal di masyarakat Indonesia, Managing Director PT Fresenius Medical Care Indonesia, Dr. Parulian Simandjuntak, menambahkan, pihaknya secara simultan telah melakukan program-program Corporate Social Responsibility (CSR) dan rutin melakukan beberapa kegiatan untuk masyarakat. Di antaranya ialah komunikasi informasi dan edukasi kesehatan ginjal kepada lebih dari 500 siswa sekolah tingkat SD dan SMP. Mereka juga melatih sekitar 100 kader, edukasi tata laksana PGK kepada lebih dari 100 perawat hemodialisis setiap tahunnya dan peningkatan kapasitas dokter melalui workshop dan seminar.

“Secara luas, kami telah menjangkau lebih dari 5 juta pasien gagal ginjal dan masyarakat melalui penyebaran informasi dan edukasi. Khususnya pada peringatan Hari Ginjal Sedunia setiap tahunnya. Di samping itu, kami juga telah melakukan advokasi kebijakan pelayanan pasien gagal ginjal bersama-sama dengan para pemangku kebijakan,” jelas Parulian.

Sebagai kelanjutan program-program sebelumnya, Parulian mengaku, tahun ini pihaknya dan Kementerian Kesehatan RI akan melanjutkan kerja sama.

Kerja sama ini tertuang dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama tentang Komunikasi Informasi dan Edukasi Kesehatan Ginjal. Dalam perjanjian ini terdapat beberapa bentuk kegiatan yang akan dilakukan bersama dengan fokus peningkatan hidup sehat dan pencegahan penyakit ginjal. Beberapa kegiatan yang dimaksud terdiri dari kampanye The Kidney Kid bagi anak usia sekolah. Selain itu ada seminar kesehatan ginjal bagi masyarakat awam dan pasien gagal ginjal, dan pelatihan kader di 3 kabupaten/kota.

“Tidak hanya masyarakat umum, Fresenius Medical Care Indonesia juga berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para tenaga kesehatan dialisis melalui Workshop Renal Expert Update secara rutin setiap tahunnya,” ucapnya.

Comments

Loading...