OUR NETWORK

Bukan WhatsApp, Bukan Line, Ini Dia Aplikasi Chat Kegemaran Para Remaja

Bukan WhatsApp, Bukan Line, Ini Dia Aplikasi Chat Kegemaran Para Remaja
Foto: The Atlantic

Saat membahas aplikasi chatting, Ladies pasti segera membayangkan aplikasi semacam WhatsApp, Line, Facebook Messenger, atau WeChat. Namun, ternyata, bagi kalangan remaja, aplikasi chat kegemaran mereka bukanlah salah satu dari aplikasi messenger tersebut. Seperti budaya remaja zaman dulu, remaja masa kini pun gemar berbincang melalui catatan. Bedanya, catatan yang digunakan bukanlah kertas yang diestafetkan atau ditukar-tukar selama berbincang, melainkan Google Docs!

Hah, Google Docs?

Jangan heran, Ladies. Ternyata, aplikasi Google Docs lebih canggih daripada aplikasi messenger, terutama bagi pelajar yang harus mengerjakan seabrek tugas.

Para pengajar awalnya menggunakan Google Docs untuk tugas kerja kelompok dan membantu siswa mengikuti jadwal dan rencana pelajaran. Akan tetapi, memang dasarnya para siswa ini sangat cerdas, mereka menggunakan Google Docs sebagai media percakapan tanpa sepengetahuan para guru.

Para remaja ini menggunakan Google Docs untuk mengobrol di saat mereka harus jauh dari ponsel dan tengah menggunakan laptop. Terkadang mereka akan menggunakan layanan live-chat, yang tidak akan terbuka secara default, yang ternyata tidak diketahui oleh para guru. Atau, mereka akan memanfaatkan fitur highlight kata, kalimat, atau paragraf dalam Google Docs, kemudian mengomentarinya melalui pop-up box di kanan layar. Selain itu mereka pun akan mengkloning dokumen yang dibagikan para guru, kemudian chatting di dalam pop-up box tersebut sehingga orang lain akan mengira mereka sedang mengecek dan membuat catatan pada pekerjaan mereka. Apabila para guru berjalan mendekati mereka, para siswa tinggal mengklik tombol Resolve, kemudian seluruh utas obrolan akan hilang.

Wow!

Apabila tugas dari guru bukanlah jenis tugas kelompok, para siswa akan membuat shared document tempat mereka mengobrol baris per baris sehingga terlihat seperti teks paragraf.

Para siswa biasanya menggunakan font yang berbeda untuk membedakan partisipan dalam chat. Kebanyakan shared documents ini akan dihapus atau di-resolve. Jarang sekali ada siswa yang menyimpannya sehingga jejak obrolan mereka benar-benari hilang.

Metode chatting dengan Google Docs ini bukan hanya mengelabui para guru, tetapi juga orang tua. Saat melihat anaknya membuat Google Docs, orang tua akan mengira mereka sedang mengerjakan tugas. Sebuah utas di Reddit pada Februari lalu mengungkap bahwa Google Docs merupakan solusi para siswa untuk mengatasi larangan bermedia sosial oleh para orang tua.

Baca juga: 5 Aplikasi Smartphone Ini Mampu Membantumu Jalani Pola Hidup yang Lebih Sehat

Seperti halnya orang zaman old, kids zaman now pun hanya membahas masalah sepele dalam chat via Google Docs tersebut. Kebanyakan topik obrolan mereka adalah peristiwa di hari itu, perencanaan pesta, gosip, PDKT-an, atau menggertak satu sama lain. Namun, dalam sebuah postingan di Bark, aplikasi yang dapat digunakan orang tua untuk memantau penggunaan ponsel anak, memuat peringatan kepada orang tua tentang anak-anak yang bersekongkol menuliskan hal-hal kejam dan menyakitkan dalan Google Docs untuk dibagikan pada anak lain. Dalam kasus lain, anak-anak jadi memiliki “burn book” digital, serta mengajak keikutsertaan teman-temannya untuk mengolok-olok orang tertentu. Untungnya kasus perundungan ini sangat jarang terjadi.

Selain Google Docs, aplikasi Microsoft Word online pun memiliki fitur sama, yaitu fitur “collaboration space”, tempat mereka mengunggah dokumen untuk dibagikan kepada teman sekelas.

Menariknya, setelah lepas dari masa remaja dan memasuki dunia perkuliahan, para siswa ini akan meninggalkan Google Docs. Bagi para mahasiswa, chatting di Google Docs di usianya yang menginjak 20 tahunan ini hanya membuatnya bernostalgia pada masa remajanya.

Sumber: The Atlantic

Comments

Loading...