OUR NETWORK

Apakah Teknologi 5G Berbahaya Bagi Kesehatan Kita?

Apakah Teknologi 5G Berbahaya Bagi Kesehatan Kita? Ratih Ika Wijayanti Gambar Cover Foto: tektonikamag.com Siapa sih yang nggak ingin koneksi internet tanpa kendala dan batas? Ladies pasti akan sangat mendambakan jaringan internet bebas hambatan dengan kecepatan tinggi kan? Nah, keinginan itulah yang kemudian mendasari pengembangan teknologi dari 4G ke 5G. Istilah 5G mengacu pada generasi kelima dari teknologi mobile. Dengan janji-janji tentang penjelajahan, streaming, kecepatan pengunduhan yang lebih cepat, serta konektivitas yang lebih baik, 5G mungkin tampak seperti evolusi alami bagi masyarakat kita yang semakin mengandalkan teknologi. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memutar film-film terbaru tanpa harus kesal menunggu buffering. Jaringan 5G telah dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan mengurangi latensi yang merupakan waktu yang diperlukan perangkat untuk berkomunikasi satu sama lain. Demikian halnya untuk aplikasi terintegrasi, seperti robot, mobil self-driving, dan perangkat medis, perubahan ini akan memainkan peran besar dalam seberapa cepat kita mengadopsi teknologi ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Andalan teknologi 5G adalah penggunaan bandwidth frekuensi tinggi, tepat di seluruh spektrum frekuensi radio. Di Amerika Serikat, Komisi Komunikasi Federal telah melelang bandwidth pertama sebesar 28 gigahertz (GHz) yang akan membentuk jaringan 5G, dengan lelang bandwidth yang lebih tinggi dijadwalkan akhir tahun ini. Ketika teknologi nirkabel 5G perlahan-lahan menyebar ke seluruh dunia, banyak lembaga dan organisasi pemerintah menyarankan bahwa tidak ada alasan untuk khawatir tentang efek gelombang frekuensi radio pada kesehatan kita. Tetapi, pada kenyataannya beberapa ahli justru berpendapat lain. Lalu, apa hubungannya 5G dengan kesehatan kita ya, Ladies? 5G memungkinkan radiasi elektromagnetik yang berbahaya Sebelumnya, kita ketahui dulu ya Ladies apa radiasi elektromagnetik itu, bagaimana hal itu dapat mempengaruhi kesehatan kita, kontroversi seputar jaringan frekuensi radio, dan apa artinya ini bagi munculnya teknologi 5G. Medan elektromagnetik (electromagnetic field atau EMF) adalah medan energi yang dihasilkan dari radiasi elektromagnetik, suatu bentuk energi yang terjadi sebagai akibat dari aliran listrik. Medan listrik ada di mana pun baik saluran listrik atau outlet, apakah listrik dinyalakan atau tidak. Medan magnet dibuat hanya ketika arus listrik mengalir. Bersamaan dengan hal itu, EMF terbentuk. Radiasi elektromagnetik ada sebagai spektrum dengan panjang gelombang dan frekuensi yang berbeda, yang diukur dalam hertz (Hz). Istilah ini menunjukkan jumlah siklus per detik. Saluran listrik beroperasi antara 50 dan 60 Hz, yang berada di ujung bawah spektrum. Gelombang frekuensi rendah ini, bersama dengan gelombang radio, gelombang mikro, radiasi inframerah, cahaya tampak, dan beberapa spektrum ultraviolet (yang membawa kita ke spektrum megahertz (MHz), GHz, dan terahertz). Mereka membentuk apa yang dikenal sebagai radiasi nonionisasi. Spektrum petahertz dan exahertz yang meliputi sinar-X dan sinar gamma adalah jenis radiasi pengion pembawa energi yang cukup untuk memecah molekul dan menyebabkan kerusakan signifikan pada tubuh manusia. Sementara itu, EMF frekuensi radio (RF-EMF) mencakup semua panjang gelombang dari 30 kilohertz hingga 300 GHz. Untuk masyarakat umum, paparan RF-EMFs sebagian besar berasal dari perangkat genggam, seperti ponsel dan tablet, serta dari stasiun pangkalan ponsel, aplikasi medis, dan antena TV. Jika dilihat dari efek biologis yang paling dapat dikenali dari RF-EMF ini adalah pemanasan. RF-EMF dosis tinggi dapat menyebabkan peningkatan suhu jaringan yang terpapar yang menyebabkan luka bakar dan kerusakan lainnya. Meski demikian, perangkat seluler dapat dikatakan memancarkan RF-EMF yang masih berada pada level rendah. Tetapi, hal ini tetap saja masih menimbulkan kekhawatiran. Munculnya 5G pada akhirnya semakin menambah kekhawatiran ini. Gelombang frekuensi radio mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia Pada tahun 2011, 30 ilmuwan internasional yang merupakan bagian dari kelompok kerja Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), bertemu untuk menilai risiko pengembangan kanker akibat paparan RF-EMF. Para ilmuwan tersebut mengamati satu studi kohort dan lima studi kasus kontrol pada manusia yang masing-masing dirancang untuk menyelidiki apakah ada hubungan antara penggunaan ponsel dan glioma, yaitu kanker sistem saraf pusat. Tim menyimpulkan bahwa berdasarkan penelitian dengan kualitas tertinggi, “Sebuah interpretasi kausal antara paparan RF-EMF ponsel dan glioma dimungkinkan terjadi.” Studi yang lebih kecil mendukung kesimpulan yang serupa untuk neuroma akustik, tetapi bukti itu tidak meyakinkan untuk jenis kanker lainnya. Tim juga melihat lebih dari 40 penelitian yang menggunakan tikus sebagai hewan percobaan. Mengingat bukti yang terbatas pada manusia dan hewan percobaan, kelompok kerja mengklasifikasikan RF-EMF sebagai “kemungkinan karsinogenik bagi manusia (Grup 2B).” Evaluasi ini didukung oleh sebagian besar anggota kelompok kerja,” tulis mereka dalam sebuah media massa. Meskipun klasifikasi RF-EMF sebagai karsinogenik bagi manusia, organisasi lain belum mencapai kesimpulan yang sama. IARC adalah bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, WHO sedang melakukan “penilaian risiko kesehatan [RF-EMF] terpisah, yang akan diterbitkan sebagai monograf dalam seri Kriteria Kesehatan Lingkungan.” Proyek EMF Internasional, yang didirikan pada tahun 1996, bertanggung jawab atas penilaian ini. Hmmm, semoga pihak-pihak yang mengembangkan teknologi juga tetap mempertimbangkan dampaknya pada kesehatan manusia. Sumber: medicalnewstoday
Foto: tektonikamag.com

Siapa sih yang nggak ingin koneksi internet tanpa kendala dan batas? Ladies pasti akan sangat mendambakan jaringan internet bebas hambatan dengan kecepatan tinggi kan? Nah, keinginan itulah yang kemudian mendasari pengembangan teknologi dari 4G ke 5G. Istilah 5G mengacu pada generasi kelima dari teknologi mobile. Dengan janji-janji tentang penjelajahan, streaming, kecepatan pengunduhan yang lebih cepat, serta konektivitas yang lebih baik, 5G mungkin tampak seperti evolusi alami bagi masyarakat kita yang semakin mengandalkan teknologi. 

Teknologi ini memungkinkan kita untuk memutar film-film terbaru tanpa harus kesal menunggu buffering. Jaringan 5G telah dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan mengurangi latensi. Jadi, waktu yang diperlukan perangkat untuk berkomunikasi satu sama lain semakin singkat. Demikian halnya untuk aplikasi terintegrasi, seperti robot, mobil self-driving, dan perangkat medis, perubahan ini akan memainkan peran besar dalam seberapa cepat kita mengadopsi teknologi ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Baca juga: Jaringan 5G Pertama di Dunia Sudah Resmi Online di Amerika Serikat

Andalan teknologi 5G adalah penggunaan bandwidth frekuensi tinggi, tepat di seluruh spektrum frekuensi radio. Di Amerika Serikat, Komisi Komunikasi Federal telah melelang bandwidth pertama sebesar 28 gigahertz (GHz) yang akan membentuk jaringan 5G, dengan lelang bandwidth yang lebih tinggi dijadwalkan akhir tahun ini.

Ketika teknologi nirkabel 5G perlahan-lahan menyebar ke seluruh dunia, banyak lembaga dan organisasi pemerintah mengatakan agar masyarakat tidak khawatir tentang efek gelombang frekuensi radio pada kesehatan kita. Tetapi, pada kenyataannya beberapa ahli justru berpendapat lain. Lalu, apa hubungannya 5G dengan kesehatan kita ya, Ladies?

5G memungkinkan radiasi elektromagnetik yang berbahaya

Sebelumnya, kita ketahui dulu ya Ladies apa radiasi elektromagnetik itu, bagaimana hal itu dapat mempengaruhi kesehatan kita, kontroversi seputar jaringan frekuensi radio, dan apa artinya ini bagi munculnya teknologi 5G.

Medan elektromagnetik (electromagnetic field atau EMF) adalah medan energi yang dihasilkan dari radiasi elektromagnetik, suatu bentuk energi yang terjadi sebagai akibat dari aliran listrik. Medan listrik ada di mana pun baik saluran listrik atau outlet, apakah listrik dinyalakan atau tidak. Medan magnet dibuat hanya ketika arus listrik mengalir. Bersamaan dengan hal itu, EMF terbentuk.

Radiasi elektromagnetik ada sebagai spektrum dengan panjang gelombang dan frekuensi yang berbeda, yang diukur dalam hertz (Hz). Istilah ini menunjukkan jumlah siklus per detik. Saluran listrik beroperasi antara 50 dan 60 Hz, yang berada di ujung bawah spektrum. Gelombang frekuensi rendah ini termasuk ke dalam radiasi nonionisasi. Nggak sendirian, ada beberapa gelombang lain yang termasuk ke dalam kategori radiasi nonionisasi, Ladies. Misalnya gelombang radio, gelombang mikro, radiasi inframerah, cahaya tampak, dan beberapa spektrum ultraviolet (yang membawa kita ke spektrum megahertz (MHz), GHz, dan terahertz).

Spektrum petahertz dan exahertz yang meliputi sinar-X dan sinar gamma  adalah jenis radiasi pengion pembawa energi yang cukup untuk memecah molekul dan menyebabkan kerusakan signifikan pada tubuh manusia.

Sementara itu, EMF frekuensi radio (RF-EMF) mencakup semua panjang gelombang dari 30 kilohertz hingga 300 GHz. Untuk masyarakat umum, paparan RF-EMFs sebagian besar berasal dari perangkat genggam. Seperti ponsel dan tablet, serta dari stasiun pangkalan ponsel, aplikasi medis, dan antena TV.

Jika dilihat dari efek biologis yang paling dapat dikenali dari RF-EMF ini adalah pemanasan. RF-EMF dosis tinggi dapat menyebabkan peningkatan suhu jaringan yang terpapar yang menyebabkan luka bakar dan kerusakan lainnya.

Meski demikian, perangkat seluler dapat dikatakan memancarkan RF-EMF yang masih berada pada level rendah. Tetapi, hal ini tetap saja masih menimbulkan kekhawatiran. Munculnya 5G pada akhirnya semakin menambah kekhawatiran ini. 

Gelombang frekuensi radio mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia

Pada tahun 2011, 30 ilmuwan internasional yang merupakan bagian dari kelompok kerja Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), bertemu untuk menilai risiko pengembangan kanker akibat paparan RF-EMF. Para ilmuwan tersebut mengamati satu studi kohort dan lima studi kasus kontrol pada manusia  yang masing-masing dirancang untuk menyelidiki apakah ada hubungan antara penggunaan ponsel dan glioma, yaitu kanker sistem saraf pusat.

Tim menyimpulkan bahwa berdasarkan penelitian dengan kualitas tertinggi, “Sebuah interpretasi kausal antara paparan RF-EMF ponsel dan glioma dimungkinkan terjadi.” Studi yang lebih kecil mendukung kesimpulan yang serupa untuk neuroma akustik, tetapi bukti itu tidak meyakinkan untuk jenis kanker lainnya. Tim juga melihat lebih dari 40 penelitian yang menggunakan tikus sebagai hewan percobaan.

Baca juga: Xiaomi Luncurkan Mi Mix 3, Handphone 5G Pertama di Dunia

Mengingat bukti yang terbatas pada manusia dan hewan percobaan, kelompok kerja mengklasifikasikan RF-EMF sebagai “kemungkinan karsinogenik bagi manusia (Grup 2B).” Evaluasi ini didukung oleh sebagian besar anggota kelompok kerja,”  tulis mereka dalam sebuah media massa.

Meskipun klasifikasi RF-EMF sebagai karsinogenik bagi manusia, organisasi lain belum mencapai kesimpulan yang sama. IARC adalah bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, WHO sedang melakukan “penilaian risiko kesehatan [RF-EMF] terpisah, yang akan diterbitkan sebagai monograf dalam seri Kriteria Kesehatan Lingkungan.” Proyek EMF Internasional, yang didirikan pada tahun 1996, bertanggung jawab atas penilaian ini.

Hmmm, semoga pihak-pihak yang mengembangkan teknologi juga tetap mempertimbangkan dampaknya pada kesehatan manusia.

Sumber: medicalnewstoday

Comments

Loading...