OUR NETWORK

Mengenal Slow Fashion, Alternatif Ramah Lingkungan dari Dunia Fashion

Mengenal Slow Fashion, Alternatif Ramah Lingkungan dari Dunia Fashion
Foto: Chromade.Co via 303magazine.com

Di tengah meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, mungkin ini saat yang tepat untuk mensosialisasikan tren slow fashion. Apa itu slow fashion? Memangnya seperti apa sih fast fashion itu sehingga muncul konsep slow fashion?

Baca juga: Produk Kecantikan Ramah Lingkungan yang Harus Kamu Miliki

Jika Ladies jeli memantau berita dunia fashion, Ladies pasti sadar ada masalah besar di balik secarik pakaian yang sedang kita kenakan. Selembar kaus yang kita beli di sebuah toko pakaian ternyata memiliki proses yang panjang dan cenderung menyedihkan. Para buruh pabrik pakaian dibayar murah untuk memproduksi pakaian yang kita kenakan. Bukan hanya itu, limbah pabrik tekstil pun hampir selalu menjadi sumber pencemaran lingkungan, terutama sungai.

Industri fashion saat ini didominasi oleh fast fashion, yang bermula dari revolusi industri.

Retailer seperti Zara, Topshop, H&M, Matahari, Yogya, Ramayana selalu berusaha untuk menghadirkan tren fashion terkini secepat dan semasif mungkin ke seluruh gerai tokonya, di penjuru dunia dan pelosok negeri. Fast fashion pun menghasilkan produk pakaian yang murah dan terjangkau oleh hampir semua kalangan. Akan tetapi, kemudahan dan kecepatan industri fast fashion menelan dua korban, yaitu buruh dan lingkungan. Selain itu, pakaian fast fashion seringkali cepat dibuang oleh para pembeli karena modelnya yang cepat out of date atau kualitasnya yang tidak mumpuni. Akhirnya, keuntungan yang didapatkan dari fast fashion tidak sepadan dengan kerugian yang ditimbulkannya.

Tahun 2007 silam, profesor sustainabilitas, desain, dan fashion yang juga seorang konsultan dan aktivis desain, Kate Fletcher menerbitkan esai mengenai slow fashion di majalah The Ecologist. Slow fashion adalah konsep yang diadaptasi dari konsep slow food yang dicetuskan oleh Carlo Petrini di Italia. Slow food mengaitkan kesenangan dan makanan dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab. Slow food kemudian menginspirasi munculnya konsep slow lain, seperti slow city dan juga slow fashion.

Pada dasarnya konsep slow fashion ini berupaya untuk meningkatkan kualitas pakaian dengan memperhatikan sumber bahan baku produk, mengedepankan lingkungan sehat bagi para pekerja, serta memilih desain produk yang tahan lama. Intinya, konsep slow fashion ini adalah kualitas melampaui kuantitas. Kehadiran slow fashion selanjutnya digadang-gadang sebagai solusi ramah lingkungan dari industri fashion.

Lalu apa saja sih karakteristik dari slow fashion ini? Berikut di antaranya.

  • Terbuat dari bahan kualitas tinggi.
  • Dijual di toko-toko kecil atau toko lokal.
  • Bahan pakaian diambil dari sumber lokal.
  • Desain pakaian yang terbatas, cenderung simple dan klasik agar tahan lama.

Dengan konsep yang sedemikian etisnya, sudah tentu slow fashion harus ditebus dengan harga yang tidak murah. Apa saja sih yang membuat slow fashion menjadi mahal? Berikut ulasannya.

1. Biaya bahan pakaian

Sustainable fabrics seringkali didapatkan dari tumbuhan dan hewan. Bahan ini tentu saja memakan biaya lebih mahal dari kain sintetik. Bukan hanya itu, para petani dan peternak yang menangani bahan pakaian ini pun harus membuang limbah dengan benar dan membatas penggunaan pestisida, dan mereka pun harus mendapatkan bayaran yang sesuai.

2. Biaya tenaga kerja

Setiap pakaian yang kita pakai dibuat oleh mesin jahit yang digerakkan oleh seseorang. Upah para pekerja ini memiliki dampak besar pada biaya produksi pakaian. Pabrik fast fashion seringkali memperlakukan buruh pabrik dengan tidak manusiawi, yaitu membayar murah dan memperkerjakan secara berlebihan. Slow fashion, di sisi lain, menawarkan hak asasi kepada para pekerja dengan menyediakan hak berserikat, hak beristirahat, batasan kerja, dan lingkungan kerja yang aman.

3. Produksi yang rendah

Harga sebuah produk akan turun ketika diproduksi secara masif. Namun, slow fashion memiliki permintaan yang rendah sehingga harus diproduksi dalam jumlah sedikit sehingga menaikkan harga produksi.

Baca juga: Sering Digunakan Setia Hari, 4 Produk Kecantikan Ini Dapat Mencemari Lingkungan Lho

Nah itu tadi selayang pandang mengenai slow fashion, Ladies. Apakah Ladies tertarik untuk mulai membeli produk-produk slow fashion? Jika Ladies berniat untuk mempertimbangkan kesejahteraan para pekerja serta memperhatikan keberlangsung lingkungan sebelum membeli pakaian, slow fashion is the perfect piece for you! Happy hunting, Ladies!

 

Sumber: goodonyou, aurorei

Comments

Loading...