OUR NETWORK

Klinik Pramudia: Tingkatkan Kualitas Hidup Penderita Vitiligo Melalui Pengembalian Fungsi Melanin

Klinik Pramudia: Tingkatkan Kualitas Hidup Penderita Vitiligo Melalui Pengembalian Fungsi Melanin
Foto: CEO Klinik Pramudia, dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV/ Sumber: Klinik Pramudia

Meski tidak menular dan berbahaya, penyakit kulit Vitiligo dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup pada penderitanya. Dalam hal ini, penderita mengalami dampak negatif secara psikologis, seperti penurunan kepercayaan diri dan stres karena bercak putih pada kulit sebagai penanda penyakit Vitiligo. Namun, menurut CEO Klinik Pramudia, Anthony Handoko, hal ini dapat ditangani dengan terapi pengembalian fungsi melanin pada kulit penderita.

“Pada dasarnya, hasil terapi Vitiligo bukanlah cure. Namun, pengobatan dapat dikatakan berhasil jika melanin dapat berfungsi kembali sebagai pigmen kulit gelap, serta mampu melindungi kulit dari sinar UV matahari yang berbahaya,” jelasnya dalam Seminar Media Vitiligo Klinik Pramudia, Rabu (20/11) lalu, di Aroma Sedap Resto.

Melanin, di sini, merupakan suatu pigmen yang menentukan warna kulit, rambut, dan mata pada manusia dalam kondisi normal. Ketika sel-sel pembentuk melanin tersebut berhenti berfungsi atau mati, maka, orang terkait tengah menderita Vitiligo. Untuk itu, pengembalian fungsi melanin dinilai dapat menjadi pengobatan yang efektif bagi penderita Vitiligo.

Klinik Pramudia: Tingkatkan Kualitas Hidup Penderita Vitiligo Melalui Pengembalian Fungsi Melanin
Foto: Salah satu dokter Klinik Pramudia, dr. Dian Pratiwi, SpKK, FINSDV, FAADV/ Sumber: Klinik Pramudia

Akan tetapi, salah satu dokter Klinik Pramudia, Dian Pratiwi, menyatakan, hingga saat ini penyebab pasti Vitiligo masih belum sepenuhnya dipahami. Meski begitu, ia menemukan banyak bukti yang menunjukkan bahwa berbagai mekanisme seperti, kelainan metabolik, stres oksidatif, respons autoimun, dan faktor genetik berkontribusi sebagai pemicu timbulnya Vitiligo.

Penyakit ini dapat menyerang individu di berbagai usia, baik pada pria maupun wanita.

Berdasarkan data terkait penderita Vitiligo dari populasi di seluruh dunia, Dian menyatakan prevalensi Vitiligo berkisar sekitar 0,5% hingga 2% dan tidak mengenal usia. Namun, kebanyakan diantaranya telah muncul sebelum menginjak usia 20 tahun. Untuk itu, menurutnya diperlukan deteksi dini Vitiligo, mengingat, hal ini dinilai dapat mengurangi efek negatif berdampak besar pada psikologis penderitanya. Adapun, pendeteksian ini dapat dilakukan secara visual.

“Dalam melakukan deteksi dini Vitiligo, dapat dicari dengan melihat tanda pada orang terkait seperti kehilangan warna kulit yang merata menjadi putih susu, uban pada rambut di kulit kepala, bulu mata, alis, atau janggut. Di samping itu juga terdapat kehilangan warna pada bagian dalam mulut dan hidung (selaput lendir), kehilangan atau perubahan warna lapisan dalam bola mata (retina),” jelasnya.

Klinik Pramudia: Tingkatkan Kualitas Hidup Penderita Vitiligo Melalui Pengembalian Fungsi Melanin
Foto: Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Senior di Klinik Pramudia, dr. Ronny Handoko, SpKK/ Sumber: Klinik Pramudia

Senada dengan Dian, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Senior pada Klinik Pramudia, Ronny Handoko, menyatakan, gejala pada anak-anak maupun dewasa relatif sama, namun, ada beberapa perbedaan yang cukup mencolok.

“Pada anak-anak, sering ditemukan Segmental Vitiligo. Gejala yang mudah dilihat adalah rambut uban yang secara dini muncul. Sedangkan pada orang dewasa, yang sering ditemukan adalah Vitiligo Non-Segmental, misalnya seperti vitiligo akibat fenomena Koebner (bekas luka yang berubah menjadi Vitiligo) dan Occupational Vitiligo (kemunculan Vitiligo akibat pekerjaan yang terpapar oleh bahan kimia misalnya),” ucapnya.

Berbeda dengan orang dewasa, Ronny menyatakan, anak-anak yang menderita Vitiligo perlu segera melakukan pengobatan secara dini. Ini dimaksudkan agar penyakit ini tidak meluas dan tingkat keberhasilan pengobatan dapat tinggi. Namun, disarankan untuk tidak over treatment, mengingat efek sampingnya yang bisa muncul di tengah pengobatan. Sebaliknya, pada pasien dewasa, Ronny menyarankan untuk melakukan terapi yang lebih intensif karena pasien dewasa lebih kuat dalam menghadapi efek samping yang akan timbul.

Dalam pengobatannya, ia menjelaskan terdapat beberapa metode terapi yang diterapkan untuk mengatasi Vitiligo.

Di antaranya, terapi Topical Corticosterois (TCS) dan Topical Calcineurin Inhibitor (TCI). Pengobatan TCS diawali dengan uji coba selama 3 bulan, dilakukan sekali setiap hari untuk menstabilkan dan meningkatkan repigmentasi. Namun, terapi ini memiliki efek samping yang menimbulkan atrofi pada kulit, stretch mark, dan munculnya teleangiektasis. Sedangkan, TCI merupakan pengembangan dari terapi TCS yang terdapat dalam 2 bentuk, yakni salep dan krim.

Pada orang dewasa, Ronny menilai, TCI sedikit lebih efektif dibandingkan TCS. Efek sampingnya lebih minim, namun sering menimbulkan skin burning. Selain itu, TCI juga bisa memunculkan efek kemerahan (Erythema), gatal (Pruritus), dan efek warna kulit lebih gelap (Hiperpigmentasi) secara sementara sebagai efek sampingnya.

“Selain 2 terapi tersebut, ada beberapa alternatif terapi lainnya, yaitu terapi sinar PUVA dan UVB-NB, terapi kombinasi UVA dan UVB-NB, terapi kamuflase kulit, terapi Depigmentasi, dan terapi sistemik lainnya,” jelasnya.

Selain proses yang panjang, Ronny menyatakan, pengobatan Vitiligo dapat memakan waktu yang panjang hingga tidak terprediksi. Secara psikologis, penderita diharuskan siap untuk menghadapi pengobatan dan quality of life (QOL).

“Tujuan pengobatannya sendiri ialah mencapai lesi yang sembuh atau stabil. Ketika lesi telah stabil, kemudian dicari alternatifnya untuk menghilangkan atau menyamarkan. Sementara untuk lesi yang sudah sangat luas, terapi Depigmentasi adalah pilihan yang tepat sehingga penderita bisa menghentikan obat Vitiligonya,” jelasnya.

Akan tetapi, Anthony menyayangkan, tak jarang pasien menyerah dan memutuskan untuk berhenti bahkan menghilang di tengah pengobatan. “Meskipun dokter sudah memberikan kombinasi terapi terbaik, hasilnya tidak akan maksimal jika pasien tidak berobat secara teratur atau tidak comply terhadap instruksi pasien. Kadang ada saja pasien yang menghilang di tengah proses pengobatan dan hal itu sangat disayangkan. Menjalani proses terapi Vitiligo memang perlu kesabaran karena lamanya pengobatan tidak bisa ditentukan,” tuturnya. Baginya, keberhasilan pengobatan atau terapi Vitiligo sangat bergantung pada kerja sama antara pengalaman dokter dan kedisiplinan pasiennya.

Sumber: Klinik Pramudia

Comments

Loading...