OUR NETWORK

Berpuasa Meningkatkan Metabolisme dan Melawan Penuaan

Berpuasa Meningkatkan Metabolisme dan Melawan Penuaan
Foto: shutterstock.com

Ramadan tiba, Ramadan tiba… Eits, you sing, you lose. Hehe…

Ladies, di bulan Ramadan ini sebagai umat Muslim memang sudah sewajibnya kita berpuasa. Menahan lapar, haus, dan emosi memang tidak mudah Ladies, namun berpuasa memiliki banyak manfaat loh buat tubuh. Dilansir dari Medical News Today, menurut penelitian terbaru yang menyelidiki dampak dari berpuasa terhadap tubuh menyimpulkan kalau berpuasa meningkatkan aktivitas metabolisme lebih dari yang kita sadari dan memberitahukan keuntungan terhadap pencegahan proses penuaan pada wajah.

Penelitian menunjukkan, puasa yang dilakukan secara berselang dapat membantu beberapa orang menurunkan berat badan. Meskipun para peneliti masih memperdebatkan seberapa efektif berpuasa dapat membantu menurunkan berat badan, penelitian terbaru menunjukkan ada manfaat lainnya. Sebagai contoh, penelitian menyebutkan berpuasa dapat meningkatkan jangka hidup pada tikus. Walau menarik, belum ada bukti yang terlihat pada manusia. Penelitian paling terbaru, yang sudah dipublikasi di jurnal Scientific Reports, memberikan penglihatan segar tentang berpuasa pada manusia dan wawasan baru.

Baca juga: Hindari Makanan Ini agar Lambung Tetap Sehat Saat Berpuasa

Penelitian pertama yang dilakukan Dr. Takayuki Teruya mengatakan “Penelitian baru-baru ini tentang penuaan wajah menunjukkan batasan kalori dan puasa memperpanjang efek jangka hidup pada model penelitian yaitu binatang. Namun detail dari mekanisme tersebut masih merupakan misteri.”

Ilmuwan lulusan Universitas Okinawa Institute of Science and Technology di Jepang secara khusus meneliti dampak berpuasa pada metabolisme tubuh. Dengan memahami proses metabolisme yang terlibat, tim tersebut berharap menemukan cara untuk memanfaatkan keuntungan berpuasa tanpa harus memasukkan makanan dalam jangka waktu yang lama.

Untuk menginvestigasi, mereka meminta 4 orang peserta untuk berpuasa selama 58 jam. Menggunakan metabolomika, para peneliti menganalisa keseluruhan sampel darah pada saat sedang berpuasa.

Kemudian apa yang terjadi? Ketika tubuh merasa lapar, terjadi perubahan pada beberapa jumlah sel. Normalnya, ketika tubuh lapar, tubuh akan menggunakan karbohidrat sebagai bahan bakar. Namun ketika karbohidrat tersebut tidak tersedia, tubuh akan mencari tempat lain sebagai penggantinya. Dalam proses yang disebut gluconeogenesis, tubuh akan memperoleh glukosa dari sumber non-karbohidrat, seperti asam amino.

Para peneliti akan mendapatkan bukti gluconeogenesis dengan menaksir jumlah zat tertentu yang terlibat di metabolisme pada darah termasuk zat asam kartinite dan burytane. Seperti yang diharapkan, setelah berpuasa, tingkat zat yang tercipta melalui proses metabolisme telah meningkat dalam darah para  peserta. Meskipun demikian, para peneliti mengidentifikasi banyaknya perubahan zat lain yang tercipta melalui proses metabolisme, beberapa mengejutkan mereka. Seperti contoh adanya tanda peningkatan pada citric acid cycle.

Citric acid cycle ini terjadi di organ tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel pada makhluk hidup, dan fungsinya untuk mengeluarkan energi cadangan. Kenaikan terlihat pada molekul yang berhubungan dengan proses ini, artinya kelompok besar sel buatan tersebut menusuk dengan sangat kuat.

Penemuan yang mengagetkan lainnya adalah meningkatnya level purine dan pyrimidine, yang mana belum dapat dipastikan disebabkan oleh berpuasa. Zat kimia ini adalah tanda dari meningkatnya biosintesis protein dan ekspresi gen. Hal ini disarankan berpuasa menyebabkan perubahan fungsi tipe sel dan kuantitas dari protein yang dibutuhkan.

Berpuasa mendorong senyawa pencegah penuaan pada wajah

Tingkat purine dan pyrimidine yang semakin tinggi adalah petunjuk bahwa tubuh kemungkinan meningkatkan level antioksidan tertentu. Tentunya, peneliti mencatat kenaikan yang sangat besar pada antioksidan tertentu, termasuk ergothioneine dan carnosine.

Pada penelitian sebelumnya, peneliti yang sama menunjukkan, semakin kita berumur, beberapa metabolite menolak. Metabolite ini terdiri atas leucine, isoleucine, and ophthalmic acid. Sedangkan pada penelitian terbaru, berpuasa mendorong ketiga metabolite ini. Mereka menjelaskan mungkin kejadian ini yang menjelaskan tingkatan jangka hidup pada tikus.

Dari keempat partisipan, peneliti menemukan 44 zat metabolite yang meningkat ketika berpuasa. Dari 44 zat ini, ada 14 zat metabolite yang berhubungan dengan puasa pada penelitian sebelumnya. Mereka kemudian menyimpulkan berpuasa terlihat memancing lebih banyak zat metabolite aktif daripada yang disadari sebelumnya.

Baca juga: Serum Anti-Aging Ini Terbuat dari Plasenta Domba, Tertarik Mencoba?

Para peneliti percaya meningkatnya antioksidan mungkin adalah respon bertahan hidup: ketika merasa lapar, tubuh mengalami tingkat stress oksidatif yang tinggi. Dengan menghasilkan antioksidan, hal ini kemungkinan mencegah potensi kerusakan yang disebabkan radikal bebas. Pada penelitian berikutnya, para peneliti ingin mengulangi pada percobaan yang lebih besar. Mereka juga ingin mengidentifikasi kemungkinan lainnya dari manfaat berpuasa dan menemukan apakan mereka bisa memicu efek batasan kalori tanpa membatasi kalori yang yang masuk.

Jadi Ladies apakah kalian akan memutuskan untuk tetap berpuasa ketika bulan puasa sudah berakhir untuk kesehatan tubuh?

Sumber: medicalnewstoday

Comments