Apakah Ladies pernah mengalami gatal-gatal saat beraktivitas di bawah sinar matahari? Jika iya, kemungkinan besar Ladies menderita alergi matahari. Selain alergi dingin dan alergi debu, ternyata alergi matahari pun bisa terjadi loh, Ladies. Alergi matahari adalah istilah untuk menggambarkan reaksi kulit yang menjadi gatal dan memerah saat terpapar sinar matahari. Istilah lainnya adalah “keracunan berjemur”. Ingin lebih tau tentang alergi satu ini? Simak ulasannya di bawah ini ya, Ladies.

Siapa sajakah yang berpotensi mengalami alergi matahari?

Alergi matahari biasanya diderita oleh seseorang yang memiliki riwayat keluarga yang juga memiliki alergi yang sama. Para penderita alergi matahari umumnya terjadi pada orang dengan latar belakang ras tertentu. Misalnya, jenis yang paling umum dari alergi matahari kebanyakan terjadi pada Kaukasian.

Apa sajakah yang dapat memicu alergi matahari?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, orang yang memiliki riwayat keluarga alergi matahari memiliki kemungkinan besar terkena alergi ini. Namun selain itu, ada beberapa hal yang dapat memicu alergi sinar matahari, antara lain:

  • Obat-obatan tertentu, seperti antibiotik tetrasiklin, obat berbahan dasar sulfa, dan penghilang rasa sakit seperti ketoprofen.
  • Bahan kimia seperti disinfektan, wewangian, atau bahkan bahan kimia yang terdapat pada tabir surya.
  • Paparan kulit tanaman, seperti jeruk nipis, atau ubi liar.
  • Kondisi medis yang dapat membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari, seperti penderita dermatitis atopic atau jenis dermatitis lainnya.

Apakah alergi matahari bisa disembuhkan?

Perawatan dan pengobatan alergi matahari dilakukan berdasarkan jenis alergi yang diderita. Pada kasus ringan, alergi dapat reda dengan hanya menghindari sinar matahari selama beberapa hari tanpa disertai pengobatan. Sementara untuk alergi yang lebih parah, penderita bisa saja memerlukan penanganan medis dan obat seperti krim yang mengandung kortikosteroid atau pil kortikosteroid seperti prednison. Obat malaria seperti hydroxychloroquine (Plaguenil) pun dapat dijadikan alternative untuk meringankan gejala dari beberapa jenis alergi matahari. Namun jika penderita sudah memiliki alergi yang parah, dokter biasanya menyarankan terapi secara bertahap. Terapi yang disebut fototerapi ini akan menggunakan sinar ultraviolet dosis kecil yang akan menyorot area tubuh yang terpapar sinar matahari. Fototerapi biasanya dilakukan selama beberapa kali seminggu dalam waktu beberapa minggu tergantung perkembangan tubuh.

Untuk mencegah kambuhnya alergi matahari, penderita disarankan untuk menggunakan tabir surya ber-SPF tinggi. Namun ingat, pastikan tabir surya yang digunakan bebas dari bahan kimia pemicu alergi. Selain itu, disarankan juga untuk menggunakan pakaian yang melindungi tubuh dari paparan sinar matahari.

Apa saja sih gejala dari alergi matahari?

Sebetulnya tidak ada gejala yang pasti karena reaksi alergi akan berbeda-beda tergantung dari penyebabnya. Namun secara umum, gejala alergi matahari antara lain:

  • Kemerahan
  • Gatal atau nyeri
  • Terdapat benjolan kecil
  • Terjadi pengerasan atau pendarahan pada kulit
  • Lecet

Biasanya gejala-gejala di atas timbul apabila kulit terpapar sinar matahari secara terus menerus selama beberapa menit atau jam. Bila gejala yang dialami ternyata lebih parah, segeralah lakukan pemeriksaan ke dokter atau rumah sakit terdekat.

Jadi, alergi matahari itu ada berapa jenis?

Setidaknya, ada empat jenis alergi matahari yang umum terjadi. Antara lain:

1. Solar Urticaria

Jenis alergi ini dianggap sebagai bentuk sejati dari alergi matahari, dan hanya menyerang sedikit sekali populasi manusia. Alergi matahari jenis ini biasanya diderita oleh para wanita dari etnis putih atau Kaukasia. Kulit akan terasa gatal dalam beberapa menit setelah terpapar sinar matahari. Akan tetapi biasanya gatal-gatal tersebut akan hilang dalam waktu beberapa jam. Untuk alergi ringan, dokter biasanya meresepkan antihistamin oral atau krim kulit anti-gatal yang mengandung kortison. Sementara untuk gejala berat, kombinasi psoralen dan sinar ultraviolet, obat antimalaria, atau tablet beta-karoten digunakan sebagai alternatif pengobatan. Selain itu, suplemen vitamin E, lidah buaya, dan quercetin (flavonoid) terbukti membantu menyembuhkan alergi sinar matahari. Penderita pun disarankan untuk mengaplikasikan tabir surya berkualitas dengan SPF tinggi harus digunakan secara teratur sebagai tindakan pencegahan alergi sinar matahari.

2. Polymorphous Light Eruption (PMLE)

Gejala dari alergi PMLE meliputi gatal dan ruam seperti kulit terbakar, atau berupa benjolan merah yang berdarah atau pecah saat kulit terkena sinar matahari. Gejala-gejala tersebut biasanya terjadi di bagian tubuh yang terbuka seperti leher, dada bagian atas, lengan, dan kaki bagian bawah. Tidak jarang juga penderita mengalami gejala lain seperti menggigil, sakit kepala, dan mual. Alergi jenis PMLE dapat terjadi setelah tubuh terpapar sinar matahari selama beberapa jam. Gejala-gejala alergi biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari, namun terdapat juga kasus gejala yang berulang. Untuk gejala ringan, penderita dapat diobati dengan mengompres atau membasuh kulit dengan air dingin secara teratur. Sementara untuk alergi yang lebih parah, penderita harus diobati dengan obat-obatan seperti antihistamin oral, seperti difenhidramin atau klorfeniramin, atau krim anti-ruam kulit yang mengandung kortison. Terkadang kombinasi psoralen dan sinar ultraviolet, obat antimalaria, atau tablet beta-karoten juga digunakan untuk mengobati alergi matahari jenis PMLE. Untuk kasus ekstrim, dokter biasanya meresepkan pengobatan fototerapi.

3. Actinic prurigo

Acnitic prurigo merupakan jenis alergi PMLE yang diwariskan. Oleh sebab itulah alergi jenis acnitic prurigo ini biasanya terjadi sejak masa kecil atau remaja. Seperti halnya PMLE, acnitic prurigo memiliki gejala berupa ruam namun dengan bintik merah yang terjadi lebih banyak di wajah daripada bagian tubuh lainnya. Jenis alergi ini dapat diobati dengan obat-obatan yang termasuk ke dalam kortikosteroid, thalidomide, obat antimalaria, dan beta-karoten, tergantung pada tingkat keparahan alergi.

4. Photoallergic Eruption

Saat terpapar sinar matahari, kulit akan bereaksi dengan zat kimia yang biasa diaplikasikan pada permukaan kulit, seperti tabir surya, parfum, kosmetik, atau salep. Akibat reaksi ini, kulit kemudian mengalami ruam merah kecil yang berisi cairan lepuh, yang dapat menyebar melalui pakaian. Biasanya dibutuhkan waktu 2 sampai 3 hari setelah terkena paparan matahari sebelum akhirnya ruam ini muncul. Lamanya gejala alergi ini bergantung pada durasi paparan dan substansi zat kimia yang digunakan. Alergi ini biasanya bisa diobati dengan krim kortikosteroid serta penghentian penggunaan krim dengan zat kimia pemicu alergi.

Tenang, Ladies. Menurut dermatologist asal Canada, Dr. Gordon Searles, sekitar 10% dari penduduk dunia menderita alergi matahari atau sensitif terhadap cahaya matahari. Tapi yang pasti, kalau kamu merasa mengalami salah satu gejalanya, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri kamu ya.

 

Sumber: amazine, doktersehat, Foto cover: pixabay.com

Komentar Kamu