OUR NETWORK

Lazy Keto Diet: Inilah Hal yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Mencobanya

Lazy Keto Diet: Inilah Hal yang Perlu Kamu Ketahui Sebelum Mencobanya
Foto: marieclaire.com

Diet ketogenik tampaknya memang telah menjadi tren diet yang tak akan memudar seiring berjalannya waktu. Diet ini sangat digandrungi oleh banyak orang dan cukup terkenal di dunia kesehatan. Selebritis seperti Kourtney Kardashian dan Gwyneth Paltrow adalah dua dari sekian banyak pelaku diet keto ini.

Diet yang dilakukan dengan menekan konsumsi karbohidrat ini memang memiliki aturan yang cukup ketat dalam pembatasan konsumsi bahan makanan tersebut. Bisa dibilang, kamu bahkan tidak diperbolehkan mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah banyak selama diet berlangsung. Sudah jelas kamu harus say goodbye sama nasi padang, roti bakar, dan aneka karbohidrat lainnya kalau kamu sedang menerapkan diet ketogenik ini, Ladies. Hiks.

Namun, seiring berjalannya waktu, diet yang menerapkan aturan cukup ketat ini memiliki pengembangan ke arah yang lebih fleksibel. Salah satu yang marak dibicarakan adalah “Lazy Keto” atau biasa dikenal dengan “Relaxed Keto”.

Nah, apa sih diet Ketogenik (keto)?

Diet ketogenik, atau ‘keto’ seperti yang sekarang dikenal luas, pada awalnya dibuat untuk membantu orang yang didiagnosis menderita epilepsi (khususnya anak-anak) yakni untuk mengurangi risiko kejang jika mereka belum mendapatkan pengobatan.

Sarah King, seorang ahli fisiologi terakreditasi menjelaskan bahwa diet keto ini menerapkan aturan yang ketat yakni 5% energi dalam sehari berasal dari karbohidrat yang setara dengan 20 sampai 50 gram karbo, tergantung pada masing-masing individu. Nilai ini setara dengan satu potong roti atau sepotong buah. Nah, sumber energi sisanya bisa dibagi antara lemak dan protein dengan prosentase 80-90% dari sisa asupan yang ada.

Dengan perbandingan seperti ini, tubuh kita dipicu untuk beralih dari yang biasanya pembakaran energi utama berupa pembakaran glukosa menjadi pembakaran lemak dan protein yang dibutuhkan otak. Benar-benar hanya sedikit glukosa.

Lalu, apa bedanya Keto dan Lazy Keto?

Penerapan keto agak sulit untuk dideteksi apakah kita sudah menerapkan konsumsi energi dengan porsi yang tepat atau belum. Butuh berbagai tes seperti tes urin dan tes darah serta napas untuk memastikan apakah tubuh kita sudah dalam keadaan ketosis atau apakah diet keto kita sudah benar-benar tepat dan berhasil. Sebab, salah-salah bukannya tubuh ideal yang didapatkan malah kita riskan terkena malnutrisi.

Nah, untuk lebih memudahkan, muncullah istilah lazy keto yang merupakan turunan dari diet ketogenik ini. Jika dalam diet keto perbandingan konsumsi karbohidrat, lemak, dan protein diatur demikian ketat, di dalam lazy keto aturan ini sedikit lebih longgar. Kamu hanya perlu memastikan bahwa tubuhmu mengonsumsi karbohidrat tidak lebih dari 20 gram dalam sehari, sementara konsumsi lemak dan protein dibebaskan dalam rasio berapapun.

Aman nggak sih Lazy Keto untuk kita?

Pada tahap ini, memang belum ada bukti ilmiah yang mendukung lazy keto. Namun, beberapa temuan justru menunjukkan bahwa gaya makan rendah karbohidrat tidak baik untuk kesehatan jangka panjang. Karbohidrat memainkan peran yang cukup penting dalam kesehatan secara keseluruhan. Menurut King, penelitian menunjukkan bahwa untuk setiap peningkatan 15 gram biji-bijian utuh yang dimakan per hari, total kematian dan insiden penyakit jantung koroner, diabetes tipe 2 dan kanker kolorektal menurun 2% hingga 19%.

Senada dengan King, Chloe McLeod, praktisi ahli diet terakreditasi juga mengatakan bahwa bahwa keto (dalam bentuk apa pun) bukan sesuatu yang dapat memberikan efek potensial pada kesehatan usus. “Konsumsi karbohidrat baik gandum, kacang-kacangan, sayuran bertepung dan buah sangat penting untuk menjaga keanekaragaman bioma mikro kita. Tidak mengonsumsi makanan ini dapat menyebabkan perubahan signifikan dan belum tentu mendatangkan perubahan positif. Penelitian telah menunjukkan bahwa diet tinggi lemak dapat mengubah keseimbangan bakteri sehat dalam usus dengan efek yang berpotensi luas terhadap kesehatan, belum lagi, peningkatan risiko sembelit.” Begitu penjelasan McLeod.

Pada akhirnya, apa pun dietnya, perlu ada sesuatu yang bisa diikuti secara konsisten. Diet haruslah mendatangkan hal positif dan tetap mengutamakan kesehatan ya, Ladies. Jangan sampai dietmu justru membuat kesehatanmu menurun ya, Ladies.

 

Sumber: harpersbazaar

Comments

Loading...