OUR NETWORK

Deodoran, Baik atau Buruk Bagi Tubuh? Begini Kata Para Ahli

Deodoran, Baik atau Buruk Bagi Tubuh? Begini Kata Para Ahli
Foto: shutterstock.com

Kebanyakan orang telah menjadikan deodoran sebagai salah satu bentuk perawatan tubuh yang sangat penting dalam rutinitas perawatan diri sehari-hari dan tak pernah terlewat. Pada urutan pengaplikasiannya, seringkali deodoran didahulukan dari pengaplikasian sunscreen. Pasalnya, insting tubuh lebih peka terhadap potensi bau badan dibandingkan paparan matahari yang nanti baru dialami.

Namun, beberapa waktu ini terdengar kabar bahwa deodoran dianggap dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan jangka panjang penggunanya. Hal ini tentunya membuat kita bertanya-tanya apakah benar produk yang selama ini menjaga aroma tubuh kita tetap wangi justru memberikan dampak buruk? Well, daripada bertanya-tanya pada hal yang tak pasti, dilansir dari Hello Giggles, para ahli akan memberikan berbagai informasi mengenai fakta bahwa apakah deodoran itu aman atau tidak. Kita mulai dari dasar-dasarnya dulu, yuk!

Salah satu pertanyaan dasar yang paling sering diajukan sebelum menggunakan deodoran ialah terkait perbedaan antiperspirant dengan deodoran.

Menurut ahli dermatologi yang berbasis di Miami, Alicia Barba, perbedaannya terletak pada cara keduanya melindungi pengguna dari bau tubuh.

Baca juga: Sudah Tahu Perbedaan Antara Deodoran dan Antiperspirant?

Deodoran, Baik atau Buruk Bagi Tubuh? Begini Kata Para Ahli
Foto: parade.com

“Antiperspirant secara tradisional menggunakan bahan alumunium, yang membuatmu tetap kering dengan mengendalikan aliran keringat untuk menghindari rasa basah di ketiak. Sementara, deodoran mengandalkan bahan-bahan lain untuk membantumu merasa segar sepanjang hari,” jelasnya. Dengan kata lain, antiperspirant mencegahmu berkeringat dengan menggunakan bahan-bahan yang menghalangi pori-pori, sementara deodoran menutupi bau dan membantumu merasa segar. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa semua antiperspirant adalah deodoran, tetapi tidak semua deodoran adalah antiperspirant.

Meski cara kerja antiperspirant yang menyumbat pori-pori dan menghambat keringat memunculkan anggapan bahwa ia dapat menyebabkan kanker, Barba menyatakan, hal tersebut belum dapat dipastikan. Pasalnya, belum ada penelitian yang mendukung pernyataan tersebut.

“Meskipun ada spekulasi, namun belum ada penelitian yang dapat menunjukkan masalah kesehatan dan keselamatan terkait penggunaan produk ini,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa FDA secara ketat telah mengatur produk melalui pengujian standar keselamatan sebelum disebarkan ke khalayak umum,” jelasnya.

Deodoran, Baik atau Buruk Bagi Tubuh? Begini Kata Para Ahli
Foto: herworld.co.id

Senada dengan Barba, sebagian besar data dari Personal Care Products Council dan FDA, menunjukkan, belum ditemukannya efek berbahaya dari penggunaan antiperspirant yang mengandung alumunium. Sehingga, masyarakat bebas untuk memilih produk sesuai kebutuhannya.

“Bagi orang yang tidak banyak berkeringat atau bagi mereka yang sedikit berkeringat dan bermasalah dengan bau badan ringan, deodoran tanpa alumunium, seperti Deodorant Alumunium 0% dari Dove, mungkin dapat menjadi pilihan yang tepat,” ucapnya.

Baca juga: Lima Deodoran Alami Terbaik yang Harus Kamu Miliki

Di samping itu, Barba menyatakan, maraknya deodoran yang mengklaim produknya dengan label ‘alami’ tidak berarti itu baik untukmu. Sebaliknya dari klaim biasanya, menurut Barba justru alternatif alami seringkali dapat menimbulkan efek samping.

“Jika kamu mengalami reaksi negatif atas suatu produk perawatan kulit, segera hentikan pemakaiannya. Sebagai gantinya, cari antiperspiran yang ditandai sebagai sensitif atau bebas pewangi karena parfum dapat menjadi penyebab iritasi atau sensitivitas,” ungkapnya.

Sumber: Hellogiggles

Comments

Loading...