OUR NETWORK

Langkah Awal Pemerintah Menanggulangi Bahaya Resistensi Antimikroba

Langkah Awal Pemerintah Menanggulangi Bahaya Resistensi Antimikroba
Foto: Eugenia Comm

Saat sakit, Ladies pasti pernah diresepkan obat antibiotik. Coba deh ingat-ingat lagi, biasanya saat diberi resep, obat itu harus dihabiskan, walau Ladies sudah merasa sehat. Sebenarnya antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Kalau dosis atau penggunaannya tidak tepat, salah-salah makin banyak bakteri yang kebal dan nantinya infeksi yang kita alami menjadi semakin parah dan sulit diobati, Ladies. Ini disebut Antimicrobial Resistance atau Resistensi Antimikroba AMR. AMR ini dianggap sebagai masalah kesehatan global dan menjadi salah satu concern terbesar saat ini, Ladies.

Pada tahun 2050 nanti, diperkirakan lebih dari 4,7 juta orang di Asia Pasifik meninggal setiap tahunnya karena infeksi yang sebelumnya dapat disembuhkan oleh antibiotik.

Dan ini merupakan angka kematian tertinggi yang diproyeksikan secara global. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kondisi ini di Asia Pasifik, seperti kondisi lingkungan, sosio-ekonomi, pertanian, geografis, dan demografis. Jadi, kawasan Asia Pasifik dapat menjadi pusat permasalahan AMR yang berdampak pada sistem kesehatan. Indonesia sendiri tercatat sebagai negara dengan tingkat resistensi tertinggi terhadap Imipenem yaitu sebanyak 6% di antara negara-negara Asia lainnya. Duh, jangan sampai deh nantinya ada travel ban saking tingginya angka resistensi ini.

Kamis (19/20) pagi, forum tingkat tinggi untuk membahas AMR digelar di kawasan Jakarta Selatan dengan dihadiri oleh pejabat dari Kementerian Kesehatan dan ahli kesehatan dari berbagai institusi. Forum ini merupakan kerjasama dari Pfizer Indonesia dan Business Council for International Understanding (BCIU).

Langkah Awal Pemerintah Menanggulangi Bahaya Resistensi Antimikroba
Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed. Foto: Eugenia Comm

Menurut Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed dari Kementerian Kesehatan, baru 11 rumah sakit nasional yang sudah tergabung dalam tahap surveillance. Pengawasan ini dilakukan untuk mendapatkan data yang valid dan bisa dibandingkan dengan negara lain. Ibu Agni mengatakan pemerintah sangat concern terhadap isu ini dan sudah ada action plan yang akan segera diimplementasikan. Kementerian Kesehatan juga akan bekerja sama dengan kementerian pertanian, kehutanan, dan lingkungan hidup karena isu ini berhubungan juga dengan aspek tersebut, Ladies. 

Langkah Awal Pemerintah Menanggulangi Bahaya Resistensi Antimikroba
Dr. dr. Hari Paraton, Sp.OG. Foto: Eugenia Comm

Dr. dr. Hari Paraton, Sp. OG, memaparkan bahwa AMR dapat terjadi pada siapa saja, termasuk di negara maju. Apalagi terkadang, seseorang tidak sampai jatuh sakit, tapi menjadi carrier dari AMR. Ada banyak yang harus dibenahi di berbagai level agar penggunaan antibiotik tepat dan bijak. Dokter Hari mengingatkan agar kita nggak usah minum apalagi minta diresepkan antibiotik jika tidak diperlukan. Langkah selanjutnya, selain mengumpulkan data, adalah pengawasan dari antibiotik yang diresepkan. Beliau juga merasa perlunya peningkatan kurikulum soal antibiotik di fakultas kedokteran. 

Baca juga: Kamu Pengguna Hand Sanitizer? Yuk, Cek Faktanya Terlebih Dahulu

Nah, jadi nggak boleh sembarangan lagi mengkonsumsi, menyimpan, dan membagikannya secara bebas ke anggota keluarga atau kerabat. Apalagi menggunakan antibiotik tanpa resep dari dokter ya, Ladies. Semoga koordinasi dan implementasi action plan soal AMR ini berjalan lancar dan angka resistensinya bisa segera ditekan.

Comments

Loading...