OUR NETWORK

Kelola Hipertensi untuk Cegah Gagal Jantung

Kelola Hipertensi untuk Cegah Gagal Jantung
Foto: unsplash.com/jesse orrico

Bayer Indonesia mendukung Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH) dalam Gerakan Peduli Hipertensi untuk menyerukan agar pasien hipertensi tetap patuh terhadap pengobatan hipertensi, termasuk selama pandemi Covid-19. Mengelola hipertensi dengan baik dapat mencegah terjadinya gagal jantung dan kematian. Berhubung tidak bisa sepenuhnya sembuh, komitmen dan kepatuhan pasien diperlukan untuk mengelola hipertensinya seumur hidup.

Di tahun 2000 saja, 972 juta orang atau sekitar 26% populasi dunia menderita hipertensi dan prevalensinya diperkirakan meningkat menjadi 29% di tahun 2025. Di Indonesia, prevalensi hipertensi di tahun 2018 berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥ 18 tahun sebesar 34,1%. Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebanyak lebih dari 63.309.620 orang dengan angka kematian akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 thun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%).

Baca juga: Cegah Hipertensi, PERHI Ajak Masyarakat Lakukan PTDR Secara Rutin

Parahnya lagi, banyak orang nggak mengetahui tekanan darah tinggi karena seringnya nggak ada gejalanya, Ladies. Itulah mengapa penyakit hipertensi disebut juga sebagai silent killer. Karena menyerang pembuluh darah, hipertens dapat menyebabkan kerusakan organ-organ vital seperti otak, jantung, ginjal, mata dan pembuluh darah besar (aorta) dan pembuluh darah tepi. Salah satu yang harus diwaspadai adalah terjadinya gagal jantung yang berujung pada kematian. Prevalensi gejala gagal jantung di negara-negara Asia Tenggara juga lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di dunia. Angka yang meningkat ini juga dipicu pertumbuhan penduduk yang pesat.

Selain prevalensi yang mencapai 5% dari total populasi, usia pasien gagal jantung di Indonesia juga relatif lebih muda dibanding Eropa dan Amerika. Pria juga menjadi penderita gagal jantung 2 kali lipat lebih banyak dibandingkan perempuan.

Kelola Hipertensi untuk Cegah Gagal Jantung
Dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K) via Eugenia Communications

Dalam virtual media briefing bersama Bayer dan Eugenia Communications Kamis (12/11) pagi, Dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), spesialis jantung dan pembuluh darah RS Jantung Harapan Kita memberi pemaparannya. “Gagal jantung merupakan kondisi kronis dan progresif jangka panjang yang cenderung memburuk secara bertahap yang disebabkan oleh hipertensi. Hipertensi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh hipertensi tersebut akan menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal (left ventricular hyperthrophy) dan dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko gagal jantung.” Hipertensi akan membuat kerja jantung menjadi lebih keras demi memenuhi kebutuhan oksidgen dan nutrisi tubuh kita, Ladies.

Dr. Ario lebih lanjut mengajak pasien agar mengatur pola hidup sehat dan patuh menjalani pengobatan.

Termasuk untuk melakukan pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala dan mengonsumsi obat untuk mencapai tekanan darah sesuai target. Pasien penyakit jantung diharuskan untuk menjaga tekanan darahnya dengan tetap rutin meminum obat, melakukan monitoring tekanan darah sendiri di rumah, dan jika perlu, konsultasi dengan dokter melalui telepon atau video. Untuk pasien hipertensi atau keluarga, penting untuk melakukan lima langkah mudah untuk manajemen hipertensi, yaitu:

  1. Ketahui target tekanan darah
  2. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan target tekanan darah
  3. Terapkan gaya hidup sehat
  4. Selalu cek tekanan darah di rumah
  5. Minum obat anti hipertensi secara teratur sesuai aturan dokter

Dr. Gunawan Purdianto, Medical Affairs Divisi Pharmaceuticals Bayer Indonesia mengatakan bahwa Bayer mendukung InaSH dalam Gerakan Peduli Hipertensi dan kepatuhan pasien dalam pengobatan sangat penting. Bayer juga melakukan inovasi dengan menggunakan teknologi OROS (Osmotic-controlled release oral delivery system) pada obat anti hipertensi mereka, Nifedipine OROS. “Teknologi OROS memungkinkan obat Nifedipine bertahan di dalam tubuh selama 24 jam dan menjaga tekanan darah tetap normal sepanjang hari. Selain itu juga menghasilkan profil keamanan obt yang lebih baik, konsentrasi obat yang lebih stabil dan berkurangnya frekuensi pemberian dosis. Teknologi OROS juga memungkinkan penggunaan dosis awal yang efektif, pencapaian pengendalian gejala lebih awal sehingga akan meningkatkan kepatuhan dan kenyamanan pasien sehingga memastikan efikasi obat dan memperbaiki kondisi kesehatan pasien.”

Jadi, kalau Ladies atau keluarga mengalami hipertensi, jangan lupa rutin melakukan monitor dan menjaga pola hidup sehatnya ya.

Comments

Loading...