Apakah Ladies pernah mendengar aplikasi AirBnB?

Seperti Go-Jek ataupun Uber, AirBnB adalah tempat penjualan jasa. Hanya saja bukan kendaraan, melainkan tempat tinggal. Yup. AirBnB menjadi alternatif bagi beberapa traveler yang bepergian ke tempat yang minim hotel. Atau, bisa juga menjadi pilihan jika hotel dirasa terlalu mahal, meskipun Ladies harus tetap membandingkan harga dulu ya sebab terkadang harga sewa di AirBnB ada yang lebih mahal.

Baru-baru ini Air BnB menjadi perbincangan dunia karena sebuah peristiwa yang cukup membuat kesal warga dunia. Adalah seorang perempuan keturunan Amerika-Asia bernama Dyne Suh yang mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut.

Awalnya Dyne mencari penginapan untuk dirinya, tunangannya, dua temannya, dan dua anjingnya di sekitar Danau Big Bear di California.

Sebuah kabin akhirnya didapatkannya dan semua berjalan baik. Sesaat sebelum tiba, Dyne mengabarkan sang pemilik kabin bahwa mereka akan segera tiba. Namun respon sang pemilik kabin cukup mengejutkan dan mengesalkan.

“Jika kamu mengira bahwa dengan uang $250 kamu bisa menyewa kabin untuk 4 orang dan 2 anjing di high season seperti ini, kamu pasti sudah gila.” Kurang lebih begitu balasannya.

Sang host, Tami Barker, kemudian menyebut bahwa Dyne adalah penipu, dan sedang memproses pembatalan penyewaan. Dyne tidak tinggal diam. Ia protes dengan mengirim screenshots bahwa Tami sudah menyetujui jumlah tamu penginapan. Di situlah peristiwa menyebalkan berubah menjadi rasisme.

“Aku tidak akan menyewakan kabinku padamu meskipun kamu adalah orang terakhir di muka bumi. Satu kata. Asian.”

Pembatalan tersebut bukan hanya melukai harga diri Dyne, tetapi juga hampir membunuh rombongannya. Dyne beserta tunangan dan kedua teman, beserta dua anjingnya terjebak di gunung, tidak ada tempat untuk singgah, sementara salju semakin deras turun.

Pihak AirBnB tidak tinggal diam. Tami Barker akhirnya dikenai denda sebesar $5.000 atau sekitar Rp67 juta. Tidak hanya itu, untuk memperbaiki sifat rasisnya, Tami diminta untuk menghadiri kursus di studi Asian-American di California Department of Fair Employment and Housing. Apakah hanya itu? Tidak, Ladies. Sebagai bagian dari kesepakatan dengan pihak berwenang, Tami Barker juga setuju untuk meminta maaf secara pribadi kepada Dyne Suh dan melakukan pengabdian masyarakat di sebuah organisasi hak-hak sipil. Pengacara Tami, Edward Lee, mengatakan bahwa kliennya menyesal atas tindakan dan komentarnya, dan dengan senang hati telah menyelesaikan masalah ini.

Mendengar bahwa permasalahannya telah diselesaikan, Dyne membuat posting-an di Facebook yang menyatakan bahwa ia senang dengan penyelesaian kasusnya, termasuk kesediaan Tami untuk mengikuti kursus studi Asia-Amerika. Dyne berharap agar pengalamannya ini akan mendorong orang lain untuk tidak bersikap rasis, juga mendorong para korban untuk melaporkan perilaku rasis dan diskriminasi kepada pihak berwajib.

Sumber: Cosmopolitan [1] [2], Foto cover: poponomics.net

Komentar Kamu